Blog Pribadi Ratna Hanafi

Cendol Dawet Mengikuti Kelas ODOP

9 komentar

Assalamualaikum sahabat ODOP. Hari ketiga mengikuti kelas ODOP, masih semangat dong      Jangan kasih kendor yah. Ingat motivasi kalian masuk ke kelas ini (sebenarnya ini nasihat buat saya pribadi). Kalau semangat mulai kendor, lihat teman-teman kalian yang setiap pagi memberondong grup dengan link-link yang indah-indah. Hehe..

Dua hari yang lalu, saya menulis materi sampai larut malam. Saya sampai lupa untuk masuk lagi di kelasnya Mba Jatu Anggraeni, S.Psi, M.Psi. Padahal materi diskusinya bagus sekali, “Writing for Healing”. Saya hanya masuk di awal kelas, kemudian melipir mengantar anak tidur. Saat kembali dan mengecek grup, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Kelas sudah tutup dan banyak peserta yang sudah keluar kelas. OK. Saya pun tidak jadi mengajukan pertanyaan. Hanya bercerita sedikit saja saat opening kelas.

Berbicara tentang menulis, ada banyak sekali manfaat menulis. Salah satunya yaitu self healing. Mba Jatu di dalam pemaparannya mengatakan bahwa self healing adalah sebuah proses untuk menyembuhkan diri dari luka batin. Metode ini dilakukan saat seseorang menyimpan luka batin yang mengganggu emosinya. Self healing berguna untuk menyelesaikan unfinished bussines yang berakibat pada kelelahan emosi seseorang.

Saya akan bercerita sedikit riwayat penyakit saya dan bagaimana menulis dapat menyembuhkan sakit kepala saya. Sejak SMA saya sering mengalami sakit kepala dan sesak nafas. Sakit kepalanya tidak tanggung-tanggung, rasanya luar biasa tidak tertahankan.  Beberapa kali ke dokter, hasilnya sama saja. Saya tidak asma, tidak ada cedera otak, atau penyakit lainnya. Nah loh, bingung kan. Lalu kenapa saya sering merasa sesak nafas dan sakit kepala hebat?

Saya mengalami gangguan psikosomatis. Apa itu gangguan psikosomatis? Mengutip dari situs halodoc.com, psikosomatis atau penyakit fungsional adalah kondisi yang menyebabkan pengidapnya merasa sakit dan mengalami gangguan fungsi tubuh. Namun, saat dilakukan pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan penunjang lain, tidak ada keanehan yang terjadi dalam tubuh. Itulah yang terjadi pada diri saya. Dokter mengatakan bahwa kondisi fisik saya keseluruhan baik-baik saja. Dokter hanya menyarankan saya untuk bercerita. Yah, hanya bercerita. Mengeluarkan uneg-uneg. Saya tidak butuh obat.

Orangtua saya pun kaget. Sesampainya di rumah, saya diberondong banyak pertanyaan. Kamu punya masalah apa? Mikir apa? Kalau ada masalah yah coba cerita, jangan dipendam sendiri. Diberondong banyak pertanyaan membuat saya justru semakin tertekan. Saya tidak tahu apa masalah saya. Tidak tahu harus mulai bercerita dari mana? Saya takut untuk bercerita. Saya tidak percaya pada siapa pun, saya takut rahasia pribadi saya diketahui banyak orang, dan ketakutan ketakutan lainnya yang membuat pribadi saya tertutup.

Saya masih ingat, saat itu momentnya bertepatan dengan ujian kelulusan sekolah. Melihat saya yang bingung, orangtua saya hanya menduga-duga penyebab sesak nafas dan sakit kepala saya. Saya takut tidak bisa mengerjakan soal ujian, dan tidak bisa lulus SMA. Saya hanya mengangguk mengiyakan. Apa yang terjadi selanjutya? Sesak nafas dan sakit kepala saya sedikit berkurang. Hanya sedikit. Orangtua saya pun menduga masih ada banyak uneg-uneg yang belum saya ungkapkan. Malam itu pun menjadi malam yang cukup panjang dan menegangkan buat saya karena saya terus dipaksa untuk bercerita. Sayangnya, meski dipaksa tetap saja tidak satupun uneg-uneg yang keluar. Saya hanya memilih untuk tidur saja setelah meminum obat pereda nyeri.

Singkat cerita apa yang saya cemaskan tidak terjadi. Saya lulus sekolah, melanjutkan studi ke perguruan tinggi, lulus, bekerja, dan menikah. Lalu apa kabar sakit kepala? Saya masih sering mengalami sakit kepala. Setelah melahirkan, sakit kepala saya naik level (Udah kayak Naruto aja yak, naik level. Hehe…). Yang awalnya hanya migren, naik level menjadi vertigo. Setiap kali sakit kepala saya kambuh, selalu disertai mual-mual dan muntah-muntah seperti orang ngidam. Saya pikir saya hamil lagi, ternyata saya vertigo. Penyebabnya tentu saja dari pikiran, kemudian menyebabkan asam lambung naik ke kelapa sehingga menimbulkan vertigo. Minum pereda nyeri hanya bertahan sebentar saja. Sekalinya kambuh, bisa sampai dua minggu.

Lalu bagaimana saya melaluinya? Belum lama ini, atau tepatnya Bulan Agustus saya bergabung di grup ODOP. Saya tahu informasi recruitment ODOP dari statusnya Mba Maritaningtyas. Jiwa kepo saya meronta-ronta. Tanya-tanya mba Marita, lalu kepoin ignya ODOP, dan mencari review kegiatannya di google. Saya menemukan blog Mba Jihan yang mengulas sedikit tentang ODOP. Awalnya saya ragu, apakah saya sanggup memenuhi tantangannya yang mengharuskan saya menulis setiap harinya? Di saat merenung, saya teringat obrolan saya dengan Mba Marita.

Kenapa nggak pede?

Coba Tanya ke diri sendiri. Kita nulis untuk dapat pujian? Atau sebagai salah satu Cara kita bersyukur Dan beribadah kepada Allah?

Postingan pertama saya di blog (sebelum mengikuti ODOP) mendapatkan pujian dari Mba Marita. Saya pikir postingan saya bakalan dihujat karena tulisan saya yang norak. Pujian Mba Marita membuat saya semakin bersemangat untuk melanjutkan menulis dan mengikuti ODOP.

Eh iya, terus bagaimana dengan vertigo saya? Alhamdulillah setelah postingan kedua saya di blog, vertigo saya sembuh. Padahal saya hanya menulis resep. Ini menjadi bukti bahwa menulis bisa dijadikan media penyembuhan atau healing.

Lanjut ke pembahasan ODOP yah. Singkat cerita saya diterima di grup ODOP dan mulai menjalani hari-hari menulis. Saya berharap dengan mengikuti kelas ini, saya bisa istiqomah dalam menulis walaupun awalnya bermula dari keterpaksaan. Meski awalnya berat, saya merasa menemukan IKIGAI saya di sini. Sesuatu yang membuat kita rela untuk melek sampai tengah malam, bersemangat menjalani hari, dan bangun pagi.

Saya berharap ODOP ini bisa terus berkembang. Menjadi wadah bagi siapa saja yang memiliki semangat untuk menebarkan kebaikan melalui dunia literasi. Saya juga berharap suatu saat nanti ODOP memiliki markas di setiap wilayah di seluruh Indonesia dan kita bisa bersilaturahmi tidak hanya secara virtual. Mungkin itu saja dari saya. Semoga bermanfaat.


#OneDayOnePost
#ODOP
#ODOPChallenge1
Ratna Hanafi
Hai! Saya Ratna Hanafi. Seorang istri dan ibu rumah tangga yang tertarik dengan dunia kepenulisan. Menulis adalah panggilan jiwa dan cara untuk hidup abadi.

Related Posts

9 komentar

  1. Wah. Semangat menulis, untuk terapi dan meningkatkan kualis diri

    BalasHapus
  2. Aamiin, semoga ODOP semakin mengudara....
    Saya senang juga bisa bergabung dan dapat banyak teman baru seperti mbak Ratna..
    Semangat terus mbakkk.....

    BalasHapus
  3. seneng denger pengalaman mbak ratna yang sudah menjadikan menulis sebagai obat untuk psikosomatisnya.
    semoga sehat terus dan semangat menulis mbak.
    semoga saya pun bisa menjadikan menulis sebagai self healing seperti mbak ratna.

    BalasHapus
  4. Wahh... Kita pelukan mbak... Saya juga dalam fase menulis sebagai proses penyembuhan dan menyebarkan energi positif... Semangat...

    BalasHapus
  5. waaah mbak Ratna hihihi samaa aku bersyukur banget dapet kesempatan gabung ODOP ini rasanya, semoga kita semua bisa istiwomah yaa lulus bareng bareng aamiin

    BalasHapus
  6. Pengalaman yang bagus untuk diceritakna dan detail sekali ... semoga bisa lulus juga mengingat semua peserta masih gress dan unyu unyu

    BalasHapus
  7. Alhamdulillah bisa gabung di odop batch 8, ya, Mba. Banyak hal yang kita dapat di sini. Semoga bisa lulus bareng ntar.

    BalasHapus
  8. Saya percaya bahwa menulis adalah terapi, Mbak. Semangat untuk selalu menulis. Semoga sehat selalu.

    BalasHapus
  9. Wah MaasyaAllah, semangat sembuh ya mba semoga sehat-sehat selalu. Alhamdulillah, sudah menemukan wasilah untuk self healing dengan tulisan dengan ODOP yang menjembatani. Semoga semakin rajin dan istiqomah ya mba nulisnya ..

    BalasHapus

Posting Komentar