Blog Pribadi Ratna Hanafi

Cerita tentang Luka yang Menganga

Posting Komentar



Pertama kali Kau datang padaku dengan tubuh penuh luka menganga. Lukamu banyak, tapi tak bersimbah darah. Koreng kah? Borok kah? Luka yang dalam, menyakitkan, tapi tidak berdarah. Luka macam apa yang Kau derita.

Kau terkapar di hadapanku. Menangis dalam diam tak berdaya. Ada sesuatu yang Kau sembunyikan. Seperti ingin bercerita, namun Kau takut. Siapa kiranya yang telah membuatmu seperti ini? Manusiakah, atau binatang. Sungguh tega.

Berkali-kali kuobati lukamu, namun tidak juga sembuh. Apakah ada yang salah dengan obatnya? Kemarin dulu si borok sembuh dengan obat ini. Lalu si koreng juga. Lukamu ini luka macam apa. Ah, yah mungkin obatnya yang salah. 

Kau semakin muram. Meringkuk, menekuk lututmu mendekati wajah dan mendekapnya. Aku semakin tak tega melihatmu. Sudah kucoba segala jenis obat. Tak ada satupun yang dapat menyembuhkan lukamu. Sakit apa yang Kau derita ini. Luka jenis apa yang bersarang di tubuhmu?

Kuulurkan tanganku. Meraihmu dan membawamu dalam dekapan. Sejurus kemudian Kau menghela nafas panjang.

"Aahhh... Damainya. Lama tak kurasakan kehangatan seperti ini." Ucapmu di telingaku.

"Kapan terakhir kali Kau merasakannya?" Tanyaku kemudian.

"Entahlah, aku lupa. Sulit rasanya untuk mengingat. Jangan Kau tanyakan lagi. Biarkan aku merasakan kehangatan ini untuk sesaat." Jawabmu.

Baiklah, jika itu yang Kau butuhkan. Aku tak keberatan, bahkan jika Kau memintanya lebih lama. 

Tiba-tiba kurasakan bahumu bergetar. Bergetar kuat. Kurasakan basah di pundakku. Kau menangis. Apa yang membuatmu menangis? Aku penasaran, tetapi tak berani bertanya. Hanya mampu mendekapmu.

Satu jam, dua jam. Ah, entahlah berapa jam. Lama sekali Kau menangis dalam dekapanku. Bajuku sudah basah kuyup oleh air matamu. Ingin kukatakan padamu untuk segera berhenti menangis, tapi aku tak berani.

"Haaah...." Kau menghela nafas. 

"Sudah. Aku sudah selesai. Bisa Kau lepaskan dekapanmu sekarang?" Tanyamu padaku. Lalu kulepaskan dekapanku darimu. Kini Kau berdiri di hadapanku. Tersenyum dengan penuh kebahagiaan. 

Sejurus kemudian aku dibuat takjub. Luka-lukamu sembuh. Goresan-goresan di tubuhmu hilang tak berbekas. Air matamukah yang menyembuhkannya? Lagi-lagi aku bertanya heran, luka macam apa sebenarnya yang ada di tubuhmu? Sungguh ajaib.

Kau yang sejak kemarin hanya meringkuk, kini berdiri tegap. Tersenyum ceria kepadaku. 

"Terima kasih." Ucapmu.

"Terima kasih untuk apa?" Tanyaku penasaran.

"Terima kasih untuk kehangatan yang Kau berikan. Kau sudah membantuku mengobati lukaku. Aku tak butuh obat, yang kubutuhkan hanya kehangatan di sini." Jawabmu sambil menunjuk dadamu.

Ah, kalau saja aku tahu sejak kemarin. Susah payah aku mencari obatnya, ternyata Kau hanya butuh dekapan. 


#ODOP

#Day9



Ratna Hanafi
Hai! Saya Ratna Hanafi. Seorang istri dan ibu rumah tangga yang tertarik dengan dunia kepenulisan. Menulis adalah panggilan jiwa dan cara untuk hidup abadi.

Related Posts

Posting Komentar