Blog Pribadi Ratna Hanafi

Pukat Harimau

1 komentar



ratnahanafi.blogspot.com



Berdiri di atas altar, singa Si raja hutan yang berwibawa. Ia mengingatkan rakyatnya untuk waspada terhadap ancaman bahaya di wilayah barat. "Rakyatku! Sebagai pemimpin kalian di hutan ini, Aku mengingatkan kalian. Berhati-hatilah bila melintasi wilayah barat. Para pemburu telah memasang banyak ranjau di sana untuk menjerat kita. Sudah banyak korbannya, aku tidak ingin lagi kehilangan rakyatku yang setia."

Di sisi lain, Dua orang pemburu sedang berusaha menangkap buruannya. Mereka mengejar induk dan anak babi hutan. 

"Lari Nak!! Lari!! Jangan berhenti sampai Kau merasa aman!!" Teriak induk babi hutan pada anaknya sambil terus berlari di belakang.

"Haah... Haah..." Si anak babi terus berlari menuju tengah hutan, menghindari para pemburu. Nafasnya terengah-engah.

"DOR!!!" 

Terdengar suara senapan ditembakkan. Seluruh satwa hutan terkejut mendengarnya. Mereka semua berlari berhamburan menyelamatkan diri. Singa masih berdiri di atas altar mengawasi keadaan sekitar.

Di sudut lain, anak Babi masih terus berlari kencang tanpa menghiraukan suara induknya yang berteriak kesakitan terkena timah panas senapan Sang Pemburu. Ia berlari sambil menahan derai air mata.

"Lari terus Nak!! Jangan berhenti!!" Induk babi berteriak sekuat tenaga kepada anaknya. Suara teriakan induk babi kepada anaknya hanya terdengar seperti lenguhan di telinga pemburu. Mereka menangkap hasil buruannya dan membawanya ke pondok.

Sampai di tengah hutan, si anak babi berhenti berlari. Tubuhnya sangat lelah, kakinya tak sanggup lagi berlari. Ia pun berhenti dan duduk di bawah pohon dengan nafas yang tersengal-sengal. Tangisnya seketika pecah, ia tak sanggup lagi menahan derai air mata. Ia menangis sampai tertidur. 

***

Dua ekor harimau jantan muda sedang bermain-main di sekitar lokasi pondok pemburu. Mereka tidak sadar kalau area tersebut dipenuhi perangkap untuk menangkap mereka.

"Ah... Aku lelah dan lapar sekali. Kita istirahat dulu di sini." Ucap harimau satu.

"Baiklah kita istirahat di sini." Harimau dua membalas ucapan harimau satu.

Tak lama kemudian, harimau dua berdiri. Ia merasakan ada sesuatu, seperti aroma babi hutan.

"Hai kawan, sepertinya ada seekor babi hutan di sekitar sini. Apa Kau mencium aromanya?" Tanya harimau dua.

Harimau satu terhenyak, Ia bangkit dan berusaha mencari-cari dari arah mana aroma itu berasal. 

" Sepertinya dari arah sana asalnya." Jawab harimau satu.

"Kau benar. Aku akan ke sana" Ucap harimau dua. 

"Tunggu! Bukankah di sana itu ada pondok pemburu?  Yang kudengar, di sana dipenuhi perangkap. Berhati-hatilah, mungkin itu hanya jebakan." Harimau satu memperingatkan harimau dua.

"Aku akan berhati-hati. Kau tunggulah di sini." Ucap harimau dua sambil terus berjalan ke arah pondok pemburu.

Sekitar 50 meter dari tempatnya berdiri saat ini, macan dua melihat babi hutan besar tergeletak tak berdaya. Tampak sebuah lubang dengan darah yang mengalir di tubuhnya. Harimau dua berjalan mendekati Si Babi secara perlahan. Ia penasaran, apakah Babi hutan besar itu masih hidup atau sudah mati. 

Saat si harimau berjalan mendekati Babi, tiba-tiba seutas tali menjerat kaki depannya. Si harimau terkejut. Ia berusaha melepaskan jeratan tali di kakinya, tetapi semakin ia bergerak semakin kencang tali mengikat kakinya. Ia berteriak kesakitan. 

Harimau satu yang menunggunya dari tadi, mendengar suara teriakan harimau dua. Ia berjalan cepat mendekati harimau dua. Tampak harimau dua berusaha melepaskan tali di kakinya. Harimau satu mendekati harimau dua, namun segera dicegah harimau dua. 

"Berhenti. Pergilah! Percuma saja Kau mendekat. Kau tidak akan bisa melepaskan jeratan di kakiku. Ini perangkap. Peringatkan semuanya untuk tidak mendekati area ini. Cepat pergi!" Teriak harimau dua memberi peringatan kepada harimau satu.

Harimau satu kemudian pergi tanpa menghiraukan harimau dua. Ia segera berlari ke tengah hutan untuk memberi peringatan kepada yang lain.

Dua hari kemudian, sekitar pukul 16.30, harimau dua ditemukan oleh petugas keamanan hutan dalam keadaan mati. Kondisinya sangat memprihatinkan. Kakinya yang terjerat seutas tali membusuk hampir putus. Di sebelahnya ditemukan pula bangkai babi hutan. Mereka kemuduian dibawa petugas untuk penyelidikan terkait dugaan perburuan liar oleh oknum tidak bertanggung jawab.


*sebuah fabel. Terinspirasi dari berita yang diunggah suara.com dengan judul "Miris! Harimau Sumatera Mati Kena Jerat di Area Konsensi Perusahan di Riau" pada Selasa, 19 Mei 2020 oleh Bangun Santoso

#ODOP

#Day2



Ratna Hanafi
Hai! Saya Ratna Hanafi. Seorang istri dan ibu rumah tangga yang tertarik dengan dunia kepenulisan. Menulis adalah panggilan jiwa dan cara untuk hidup abadi.

Related Posts

1 komentar

  1. Kasihan sekali harimaunya kak..huhhuuhh Tetap semangat menulis ya kak..

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email