Blog Pribadi Ratna Hanafi

Edisi Kangen Kampung Halaman, 6 Makanan unik dan khas Purwokerto

Posting Komentar

Alun-alun Purwokerto (Sumber : Traveloka.com)

Berkunjung ke Blognya Kak Martin Setiawan tadi pagi, membuat saya rindu kampung halaman. Tulisannya yang mengulas tempe mendoan Semarang vs Purwokerto membuat saya teringat kota ngapak yang terkenal dengan slogannya, “Ora Ngapak Ora Kepenak.” Saya rindu kuliner khas dan unik dari Purwokerto. Apa saja sih sebenarnya kuliner khas dan unik yang ada di sana? Berikut ini akan saya ulas beberapa kuliner khas Purwokerto selain mendoan yang sudah terkenal di mana-mana. Mungkin di antara kalian belum pernah dengar beberapa makanan ini.

1.   Kampel atau Kampelan


Kampel (Gambar : dokumen pribadi  @ratnahanafi)

Istilah kampel atau kampelan memiliki arti peluk atau pelukan. Orang yang pertama kali mendengar istilah ini tentunya akan berpikir, makanan apa sih sebenarnya kampel ini? Mengapa dinamakan kampel? So, kampel merupakan ketupat yang disatukan atau berpelukan dengan tempe, tahu, atau dage. Setelah disatukan, kemudian dicelupkan ke tepung lalu digoreng. Kalau yang pernah saya makan, ketupat disatukan dengan tempe. 

   Agak aneh sih sebenarnya buat saya pribadi. Serasa makan burger, tapi rotinya diganti ketupat dan dagingnya diganti tempe. Makan satu saja sudah kenyang. Biasanya di dalamnya diisi semacam isian combro agar rasanya lebih enak. Ada yang mengatakan kalau kampel ini makanan jaman perang. Mereka sengaja menyatukan ketupat dengan tempe, tahu atau dage agar praktis saat dimakan, karena di jaman perang mereka tidak sempat untuk makan dengan tenang.

     2.   Cimplung


Sumber : https://dosenwisata.com/makanan-khas-banyumas/

Di Semarang saya tidak menemukan makanan yang bernama cimplung. Makanan ini terbuat dari singkong yang dicelupkan ke dalam rebusan air nira kelapa. Kata cimplung berasal dari kata cemplung yang artinya masuk ke dalam air (nira dari kelapa). Rasanya manis alami gula jawa dan empuk. Makanan ini mudah ditemui di pedesaan yang masih banyak membuat gula jawa. Waktu saya kecil dulu, kalau saya main ke rumah teman saya, pasti suguhannya cimplung. Sekarang agak sulit menemukan cimplung karena sudah jarang yang membuatnya.

3.   Nopia atau Mino


https://cdn2.tstatic.net/banyumas/foto/bank/images/mino-yang-sudah-matang.jpg

Hayoo… ada yang tahu nggak Nopia atau mino (mini nopia)? Mungkin ada yang pernah melihat dan memakannya tapi tidak tahu apa namanya. Bahan utamanya tepung terigu dengan isian gula jawa, kacang, atau cokelat. Varian lainnya ada juga yang rasa durian. Kalau saya tetap suka yang original, yaitu gula jawa. Menurut saya lebih enak.

4.   Templek

Sekilas namanya terdengar aneh. Menurut saya memang aneh sih. Bahan utamanya adalah ampas tahu atau lebih dikenal dengan istilah ranjem. Cukup dicampur dengan bumbu-bumbu lalu dicelupkan ke tepung terigu dan digoreng. Ada juga yang diberi rasa pedas agar rasanya lebih nikmat. Paling enak kalau dimakan saat panas. Jujur, kalau saya kurang suka karena seret di tenggorokan. Hehehe….

5.   Gesret

Bahan darasnya adalah singkong. Proses pembuatannya, singkong yang telah dicuci bersih diparut kasar atau digesret dengan parutan. Kemudian dikukus dengan gula jawa dan garam hingga matang. Setelah itu disajikan dengan parutan kelapa. Kalau yang ini, saya suka. Rasanya manis dan gurih.

6. Kraca

Makanan ini terbuat dari keong emas yang banyak ditemui di persawahan. Berbeda dengan bekicot. Kraca memang terkesan menjijikan namun mengandung protein tinggi. Kalau di desa-desa biasanya sih buat pakan bebek sebagai makanan alami penambah protein. Di Purwokerto, kraca disulap menjadi makanan yang nikmat. Masaknya dengan bumbu-bumbu yang dicampur rempah-rempah agar tidak amis. Biasanya banyak dijual saat bulan puasa. Di Purwokerto yang saya tahu, hanya ada satu warung di daerah kauman lama belakang Rita swalayan Pasar Wage yang setiap hari menjual kraca.

Sebenarnya masih banyak lagi makanan khas dan unik dari Purwokerto yang mungkin masih banyak orang di luar sana yang belum kenal. Selama ini yang mereka tahu dan terdengar familiar hanya Mendoan, gethuk goreng, dan Soto Sokaraja. Kalau mau digali lagi, masih ada banyak lagi. Masih ada ciwel, buntil, intil, lembutan, dan masih banyak lagi yang lain. Semoga pandemi segera berakhir, agar rindu saya akan kampung halaman segera terobati.


#ODOP

#Day8

Ratna Hanafi
Hai! Saya Ratna Hanafi. Seorang istri dan ibu rumah tangga yang tertarik dengan dunia kepenulisan. Menulis adalah panggilan jiwa dan cara untuk hidup abadi.

Related Posts

Posting Komentar