Blog Pribadi Ratna Hanafi

Minime part 1

34 komentar

 



Tidak banyak yang aku ingat tentang kisah hidupku. Beberapa hal tertutup kabut, hanya terlihat samar-samar. Sekarang saja usiaku 31 tahun. Terlalu sulit jika hanya mengandalkan ingatan selama itu. Buku diary aku tak punya. Kalaupun ada, sudah kumusnahkan karena aku terlalu takut untuk membukanya kembali. Semacam phobia karena pernah beberapa kali diaryku ditemukan dan dibaca di hadapanku oleh Budhe. Tulisanku buruk, kata-kataku buruk.  Aku malu. Sejak itulah aku berhenti menulis. Kupendam sendiri semua masalahku.

Setelah sekian lama, kuberanikan diriku untuk kembali menulis dengan mengikuti kelas ODOP.  Alasan utamaku adalah untuk healing. Aku ingin sehat, menyembuhkan trauma masa laluku. Menyembuhkan penyakit psikomatisku.   Memang berat, karena setiap hari aku dituntut untuk menulis dan menulis. Berat karena aku punya trauma masa lalu. Berat karena seleksi alam yang begitu ketat.

Pernah Ranking satu di masanya

Aku tidak pernah percaya diri. Menganggap rendah diriku sendiri. Entahlah apa sebab. Padahal jika digali lagi ke belakang, aku pernah menjadi murid teladan dan berprestasi saat SD. Rankingku selalu naik turun di angka 3 besar. Aku tidak pernah berpikir untuk bersaing dengan teman yang kuanggap sebagai sahabat, entahlah dia menganggapku sahabat atau tidak. Bagiku ranking hanyalah bonus.

Aku selalu menjadi siswa teladan karena kedisiplinanku kala itu. Semua berkat gemblengan keras Bude yang mendidikku sejak kecil. Aku didik secara militerisme, benar-benar disiplin. Bagaimana tidak, aku dipaksa untuk tetap berangkat sekolah meski sudah terlambat masuk kelas. Alasannya karena aku tidak sakit. Hanya kecapekan pulang dari Jakarta, rumah orangtuaku, setelah libur sekolah. Aku masih ingat bagaimana aku merengek-rengek saat itu, tetapi tidak didengarkan. Bude tetap mengantarku ke sekolah. Tidak hanya sekali, tapi beberapa kali seperti itu. 

Aku hidup terpisah dari kedua orangtuaku. Bukan karena bercerai. Semua baik-baik saja. Aku yang menginginkan untuk kembali ke desa karena ingin bersekolah dengan sahabat kecilku. Sebenarnya ada alasan lain, karena aku merasa kurang mendapatkan perhatian setelah kedua adik kembarku lahir. Kupikir lebih baik aku kembali ke desa, karena di sana pasti menyenangkan. 

Prestasi dan semangatku menurun ketika memasuki SMP. Aku tidak tertarik lagi untuk meraih ranking satu ataupun mengejar prestasi (bahkan sampai sekarang, aku tidak tertarik untuk berprestasi. Hidupku biasa-biasa saja). Bisa dibilang sebagai protes karena aku masuk sekolah favorit bukan atas keinginanku sendiri. Sekolah yang kupilih harus sama dengan sahabatku, itu yang kupikirkan. 

Kelas 1 SMP sampai kelas 2 SMP rangkingku masih bisa masuk sepuluh besar. Setelahnya tidak pernah mendapat rangking. Aku tidak semangat belajar. Tidak ada keinginan untuk memiliki sahabat, terlalu cupu, dan tidak percaya diri. Barulah di kelas 3 SMP aku menemukan teman yang cocok menurutku, dan kuanggap dia sebagai sahabatku. Kami begitu dekat. Kami sering melakukan hal-hal konyol bersama. Menelepon kakak kelas, dan pergi berlibur berdua naik bis dari Purbalingga sampai ke Klaten. Buatku itu sangat berkesan.

Memasuki SMA, aku kembali menutup diri karena terpisah dengan sahabatku. Kami tidak lagi bermain bersama-sama. Dia pindah ke luar negeri mengikuti jejak kedua orangtuanya. Aku merasa sendiri, dan rapuh saat itu.  Di sinilah akar permasalahannya. Aku tidak suka berkumpul dengan orang banyak, pergaulanku sempit, teman-temanku sedikit, dan cenderung menutup diri dari lingkungan sekitar atau menyendiri. Di kemudian hari aku baru tahu kalau aku introvert. 

Eksperimen konyol

Pernahkah kalian berpikir menetaskan telur cicak dengan metode penyinaran seperti telur ayam? Pasti tidak. Saat SMA, entah kelas berapa lupa, aku pernah melakukan eksperimen konyol. Sebenarnya eksperimen yang kulakukan ini tidak disengaja. Saat membereskan kamar dan lemari baju, ada tiga butir telur cicak di lemariku. Awalnya mau kubuang. Entah kenapa tiba-tiba terlintas di pikiranku untuk melakukan penetasan dengan metode penyinaran. Pikirku, kalau telur ayam saja bisa, pasti telur cicakpun bisa.

Kuambil tiga butir telur cicak yang ditinggalkan induknya. Kumasukkan ke dalam toples plastik bekas permen karet yang di dalamnya diberi kapas. Setelah itu kusinari setiap malam dengan lampu belajarku. Tutup toples kulubangi agar ada sirkulasi udara. Kalau pagi sampai sore tutup toples sengaja kubuka dan lampu belajar kumatikan agar tidak telalu panas (ngirit listrik. Hehe...). Setiap hari kuamati. Entah mengapa aku merasa bahagia melakukannya. Padahal bukan tugas sekolah atau apa pun. Hanya misi penyelamatan dan eksperimen konyol ala-ala. Sekitar tiga minggu kemudian telur-telur cicak itu pun menetas. Sepulang sekolah kulihat cangkang telur sudah terbuka, tetapi cicaknya tidak ada di dalam toples. Mereka berhasil kabur karena saat itu tutup toples kubuka. Entah mengapa aku merasa sedih melihatnya. Tega sekali mereka pergi tanpa berpamitan padaku. Konyol.

Sebenarnya masih banyak lagi eksperimen-eksperimen konyol yang kulakukan saat sekolah dulu. Aku tidak terlalu ingat. Hanya itu saja yang kuingat dan paling berkesan. Next aku akan ceritakan kisahku yang lain.



*Minime, sebuah artikel
#OneDayOnePost
#ODOP
#ODOPChallenge3
Ratna Hanafi
Hai! Saya Ratna Hanafi. Seorang istri dan ibu rumah tangga yang tertarik dengan dunia kepenulisan. Menulis adalah panggilan jiwa dan cara untuk hidup abadi.

Related Posts

34 komentar

  1. Balasan
    1. Dipikir2 sekarang ini geli yak. Sekarang liat cicak aja jijik, Tapi waktu itu nggak ada rasa jijik sama sekali. Hehehe...

      Hapus
  2. Mulia sekaliiii... Sudah berhasil menetaskan terus cicak dan anak-anak ciicak selamat hingga berhasil kabur tanpa berpamitan dengan penolongnya...huhhuuhhh ditunggu cerita selanjutnya kak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha.... Sedih aja kak. Padahal aku berharap bisa liat proses mereka buka cangkang kaya di national geographic. Sayang dulu belum punya kamera, kalau punya bakal kuabadikan moment itu.

      Hapus
  3. Bisa kepikiran buat bikin eksperimen telur cicak ya hahaa

    BalasHapus
  4. Hahaha.. Kok bisa kepikiran telur cicak yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pernah coba pake telor ayam kak, nggak berhasil. Salah perlakuan, malah busuk telornya.

      Hapus
  5. Aku juga tipe orang yang suka dengan lingkaran pertemanan kecil.

    BalasHapus
  6. "Tega sekali mereka pergi tanpa berpamitan padaku..." hihi benar-benar tega mereka!

    Autobiografi yang menarik. Semangat terus, Kak. Ku melihat sosok introvert dengan bakat luar biasa~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... Tega emang.
      Maa Syaa Allah... Amiin.

      Hapus
  7. Ya Tuhan ..lucu sekali ceritanya. Tapi menantang untuk dilakukan...kreatif kak.

    BalasHapus
  8. Sepertinya latar belakang kita agak mirip, Kak :)
    Tetap semangat ya! Aku tahu, bertahan dalam kondisi seperti itu tidak mudah. Semangat!

    BalasHapus
  9. bisa jadi ternak cicak tuh, kreatif mbak ratna :)

    BalasHapus
  10. Astaga.. Kakak ternyata iseng banget.. wkwkkwkw

    BalasHapus
  11. Bisa bikin jasa penetasan telur cicak tuh kak 😁 semangat terus kak ...

    BalasHapus
  12. eksperimennya seru ya mbak, hehe, semangat nulisnya mbak!

    BalasHapus
  13. Menarik sekali, Kak tulisannya. Apalagi pas bagian telur cicak. Nggak pernah sekalipun saya kepikiran buat menetaskan telur cicak begitu :D

    BalasHapus
  14. ceritanya menarik. Di bagian sebelum eksperimen telur cicak, aku merasa seperti membaca novel, hehe. Semangat terus ya Kak!

    BalasHapus
  15. Wah. Cicak lupa kulitnya. Eh, kacang lupa kulitnya tuh cicak. Tidak tahu terima kasih. Hihi.

    Ceritanya bagus banget, Kak. Mengalir dan natural. 😊

    BalasHapus
  16. Hahahaha ... setidaknya, sudah ada bakat kepo yang tinggi. Itu kalau diteruskan bisa jadi ilmuwan. :)

    BalasHapus
  17. Bukan konyol namanya jika itu bermanfaat (paling tidak bukan sesuatu yang ditujukan untuk merugikan orang lain).

    Semangat, Issac Newton bisa menemukan teori gravitasi karena meneliti apel jatuh. Hal yang dianggap sepele semua orang kala itu.

    BalasHapus
  18. Aku setuju klo buku diary itu privasi makanya dulu aku beli buku harian yang pakai kunci... Semangat terus yaa KK... Belum pernah lihat telur cecak langsung cus Googling hahah makasih yaa

    BalasHapus
  19. keren sekali ... ada part 1 berarti akan ada lanjutan dong ... ditunggu ya

    BalasHapus
  20. Ya amppuuuun idenya kak.. aku ga pernah kpikiran sampai stu

    BalasHapus
  21. Toss mbak, dibalik tingkahku di group whatsapp, aku sebenarnya orang yang rendah diri, bahkan sampai sekarangpun demikian. Makanya sebenarnya aku bingung mau nulis apa. Tapi cerita mbak menginspirasi diriku

    BalasHapus
  22. Ternyata pernah melakukan hal-hal konyol juga. Aku nggak mau kalah deh haha. Inspiratif sekali, apalagi tentang telur cicaknya. Baca sambil senyam senyum daritadi gara-gara geli. Tulisannya menghibur sekali. Terima kasih mba

    BalasHapus
  23. Hahaha keren kak tulisannya. Lucu juga.... Alhamdulillah bisa buat bahagia bacanya hihi walaupun kata kakak konyol :D

    BalasHapus
  24. Berarti udah kreatif dari dulu nih. Improve terus kak kreativitasnya.

    BalasHapus
  25. Inspiratif, Kak. Boleh dibuat cerita menarik ini. Izin pake idenya boleh, Kak? 😃

    BalasHapus
  26. Ayo terus gali potensi dirinya.
    Tidak belajar saja masih masuk 10 besar.
    Untuk meningkatkan kepercayaan diri bisa dengan melakukan projek kecil, jika berhasil mulai lagi yang baru. Tampak sepele tapi sebenarnya manjur untuk meningkatkan kepercayaan diri kita:)

    BalasHapus
  27. Pengenalan unik, aku agak geli dibagian cicak kak. Ndak suka cicak 😢

    BalasHapus

Posting Komentar