Blog Pribadi Ratna Hanafi

Minime Part 2

Posting Komentar

 


Strong Why Memakai Hijab

Aku berijab sejak kelas enam SD. Alasanku saat itu karena potongan rambutku yang menyerupai laki-laki. Aku malu karena setiap hari diejek teman-teman lelaki. Bahkan aku pernah mengamuk dan memukul membabi buta salah seorang teman lelakiku dengan gagang sapu. Kemudian kubating meja hingga terbalik. Kalau igat kejadian itu aku selalu merasa berdosa. Apa kabar temanku yang pernah kupukul dengan gangang sapu? Apakah dia masih ingat kejadian itu? Malu rasanya kalau sampai bertemu lagi.

Cerita sedikit. Sebenarnya sebelum kejadian itu, aku memang ingin berhijab. Kuutarakan keinginanku ini saat kelas empat SD. Sebagai siswa teladan, aku ingin memberi contoh kepada teman-teman pondokku yang saat itu ke sekolah memakai hijab tetapi memakai seragam pendek. Alasan mereka karena seragam yang mereka dapatkan dari sekolah pendek semua. Sekolah tidak mengizinkan siswa mengenakan seragam yang tidak sesuai standart pemerintah saat itu. Aku tidak percaya begitu saja. Sayangnya saat itu keinginanku belum diacc dengan alasan masih terlalu dini untuk berhijab. Takut nanti aku bosan. 

Barulah di kelas enam aku berhijab. Tentu saja aku bersikeras mengutarakan kembali keinginanku untuk berhijab. Setelah lebaran dan setelah peristiwa tersebut, akupun memakai hijab. Kupikir pihak sekolahan akan menegurku karena seragamku yang tidak standar. Ternyata guru-guru memujiku. Teman-teman pondok pun mengikuti jejakku memakai seragam panjang dan berhijab sesuai syariat.

Sayangnya saat kuliah, entah angin apa yang membuatku merasa bosan berhijab. Awalnya hijabku panjang menutupi dada dan bokong. Saat kuliah aku justru memilih untuk mengenakan hijab yang tidak syar'i. Pakainaku seksi, hijabku mini. Aku senang mencoba berbagai style hijab yang sedang trend saat itu. Aku takut dicap sebagai teroris karena hijabku yang besar. Aku lebih takut diusir dari rumah kalau sampai bercadar daripada ditolak masuk surga. Kalau ingat saat itu, menyesal sekali rasanya. Semoga Allah mudahkan aku yang saat ini untuk tetap istiqomah berhijab dan hijrah ke jalan yang benar. Aku ingin kembali mengenakan hijab yang sesuai syariat. 

Cerita tentang Stain

Meow... Meow...

Seekor anak kucing mengeong di halaman samping rumah. Anak kucing yang lucu dan menggemaskan. Ingin sekali aku memilikinya, tapi dia terlalu liar. Belum juga kupegang, sudah lari.

Saat itu usiaku sembilan tahun. Aku suka sekali acara Club Disney yang tayang di RCTI pada waktu itu. Acara anak-anak era-90an. Ada tayangan menarik, tentang bagaimana menjinakkan kuda. Kupakai teknik itu untuk menjinakkan kucing. Setiap pagi kuberi kucing itu makan. Kuamati selama beberapa hari. Setelah beberapa hari kuberi makan, si kucing sedikit jinak. Kuusap-usap perlahan kepalanya saat dia makan. Hari-hari berikutnya dia mau kupegang dan kubawa masuk ke rumah sebagai peliharaanku.

Kucing itu kuberi nama Stain tapi selalu kupanggil Pus. Eyang nggak setuju kalau kucing diberi nama, menyerupai manusia. Makanya walaupun namanya Stain,  panggilannya tetap Pus. Hehe...

Dia kucing langka dan istimewa. Setiap malam kutaruh di luar rumah. Istimewanya, setiap jam tiga pagi kucing ini selalu berhasil masuk ke dalam rumah, lalu mengeong-ngeong di depan kamar eyang. Membangunkan eyang untuk sholat tahajud. 

Keistimewaan lainnya, saat bulan puasa si kucing juga ikut puasa. Saat berbuka pun dia akan pulang sebelum maghrib, lalu berbuka bersama kami. Makan pun tidak pilih-pilih. Roti, sayur, ikan dimakannya.

Suatu hari si kucing menghilang. Entah ke mana perginya. Seminggu tak pulang. Kucari ke mana-mana tidak ketemu. Lalu tiba-tiba dia muncul dalam keadaan sakit. Mulutnya mengeluarkan cairan merah bening. Kurawat semampuku. 

Esok harinya, aku merengek tidak mau berangkat sekolah karena ingin merawat si kucing. Bude meyakinkanku kalau si kucing akan baik-baik saja di rumah. Bude berjanji untuk menjaganya. Dengan berat hati aku berangkat sekolah. Selama jam pelajaran sampai pulang sekolah aku hanya memikirkan si kucing. Sesampainya di rumah kudapati si kucing sudah tidak ada. Kucari dia di kebun, tidak ada. Di manapun tidak ada. Aku benar-benar kecewa pada Bude saat itu. Bude tidak menepati janji, pikirku. 

Tiga hari kemudian, seorang bapak-bapak tetangga rumah datang. Memberi kabar kalau kucingku sudah mati, dan dikubur sama si bapak di kebunnya, di bawah pohon kopi. Tidak percaya dengan perkataannya, kuminta ia membawaku ke tempat dia mengubur si kucing. Lalu dia membawaku ke sana dan menggali kuburannya. Benarlah, jasad si kucing ada di sana. Seketika itu juga aku menangis. Kutandai kuburannya, dan kutaburi bunga layaknya kuburan manusia.

Setelah itu aku tidak pernah lagi memelihara kucing. Tidak ada seekor kucingpun yang menarik perhatianku. Semuanya Memiliki bad habit, suka mencuri makanan di meja makan. Rest in peace my cat. Love you so much.



#ODOP

#Day16

Ratna Hanafi
Hai! Saya Ratna Hanafi. Seorang istri dan ibu rumah tangga yang tertarik dengan dunia kepenulisan. Menulis adalah panggilan jiwa dan cara untuk hidup abadi.

Related Posts

Posting Komentar