Blog Pribadi Ratna Hanafi

Perilaku Menyimpang dan Alternatif Pencegahannya

Posting Komentar

Saya baru saja pulang dari penyuluhan packing product untuk pengusaha UMKM, ketika ibu bercerita tentang pencurian handphone di sebuah swalayan. Pelakunya dua orang anak kecil berusia sekitar sepuluh tahun.  Kronologinya, korban yang merupakan karyawan swalayan tersebut meletakkan handphone di atas meja. Kemudian saat korban mengecek beberapa produk display, pelaku dengan sigapnya membawa kabur handphone korban. Tidak ada yang menyadari gelagat pelaku karena semua orang sibuk. Kejadian ini baru diketahui setelah korban menyadari kalau handphonenya hilang dan kemudian mengecek cctv.

Saya kemudian teringat kembali peristiwa pencurian sepeda di perumahan dekat rumah saya. Pelakunya juga dua orang anak kecil berusia sekitar sepuluh tahun. Parahnya, tindakan pelaku ini dimotori oleh kedua orangtuanya. Entahlah, yang jelas ada dua orang dewasa yang bertugas mengelabui satpam dengan berpura-pura mengajak ngobrol satpam. Hal ini dilakukan untuk mengalihkan perhatian si Satpam yang sedang bertugas saat itu dari kamera cctv. Meski dilakukan di siang hari, tidak ada satupun yang menyadarinya. Siapa yang akan mengira, sikap kedua anak ini tampak biasa saja saat membawa kabur sepeda. Seakan-akan sepeda itu miliknya sendiri.

Saya pun pernah dibuat kesal oleh tiga orang anak laki-laki. Entah usianya berapa tahun, saya perkirakan sekitar kelas 1 SMP. Mereka masuk ke sebuah mini market sambil cekikikan. Kemudian mengambil snack lalu menuju kasir sambil masih cekikikan penuh gaya. Hal yang membuat saya kesal adalah mereka berdiri di samping saya. Padahal seharusnya mereka antri di belakang saya. Saya curiga mereka hendak menyerobot antiran saya. Benar saja, ketika antrian di depan saya sudah selesai bertransaksi, salah satu dari ketiga anak ini berusaha mendahului antiran saya. Tentu saja saya tidak terima. Langsung saja saya serahkan keranjang belanjaan saya ke kasir.

Belum selesai sampai di situ. Setelah keluar dari mini market, saya lihat mereka berboncengan bertiga dengan satu motor, sambil menggeber sepeda motornya. Salah seorang yang duduk di tengah pun membuang sampah bungkus makanan sembarangan dengan santainya. Saya benar-benar kesal dibuatnya.

Pertanyaan yang kemudian muncul di kepala saya adalah apakah mereka ini tidak sekolah? Atau mereka membolos di saat pelajaran agama? Bagaimana pendidikan yang ditanamkan oleh orangtuanya di rumah? Bagaimana lingkungan sosial tempat tinggal mereka? Darimana mereka mendapati perilaku menyimpang tersebut? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang muncul kemudian.

Banyak faktor yang menjadi penyebab perilaku menyimpang pada anak. Penyebabnya bisa dikarenakan kurangnya perhatian orangtua kepada anak, faktor lingkungan sosial, trauma psikis, atau pergaulan di sekolah yang kurang baik.

Saya tidak akan membahasnya panjang lebar. Semoga Allah mudahkan, Insya Allah di lain kesempatan saya akan membahasnya lagi dengan perspektif yang berbeda.

Pendidikan etika diterapkan melalui keteladanan. Anak terbiasa melihat teladan yang baik pada diri orangtua, maka mereka pun akan berperilaku baik. Anak tinggal di lingkungan keluarga yang sehat, lingkungan sosial yang positif, maka etika mereka pun akan terjaga. Anak akan bersikap santun, sopan, ramah, tahu tata karma, dan menghormati kedua orangtua maupun guru.

Lalu bagiamana caranya pencegahannya? Ada beberapa alternaif yang bisa dilakukan. Pencegahan sebelum dan sesudah terjadinya perilaku menyimpang.

1.       Perbanyak waktu luang dengan anak

Moms and Dads yang sibuk bekerja dan kurang mempunyai waktu luang bersama menyebabkan anak kurang perhatian. Anak yang kurang perhatian akan cenderung berperilaku menyimpang. Hal yang bisa Moms and Dads lakukan adalah jauhkan gadget dan mulailah membangun hubungan yang hangat dengan anak. Ajak anak bercerita tentang kegiatan sekolahnya, kegiatan sehari-harinya, atau bercerita tentang teman sekolahnya. Meski hanya sejam, hal itu cukup membuat anak merasa diperhatikan oleh Moms and Dads.

 2.        Pentingnya adab sebelum ilmu

Sebelum anak memasuki usia sekolah, ada baiknya Moms and Dads mengajarkan adab kepada anak. Ada sebuah cerita, ketika Malik bin Anas akan belajar kepada Rabi'atur Ra'yi. Ibunya berpesan "Nak, camkan pesan ibu, pelajarilah olehmu adab Rabi'atur Ra'yi sebelum kau pelajari ilmunya." Adanya perilaku menyimpang dikarenakan kurangnya menjaga adab.

 3.       Komunikasi dengan semua pihak

Jika sudah terjadi perilaku menyimpang, maka hal yang perlu dilakukan adalah komunikasi dengan semua pihak. Menjaga komunikasi antara orangtua dan anak, orangtua dan guru di sekolah, dan dengan pihak yang berwajib jika dirasa perlu dan sudah meresahkan masyarakat.

Wallahualam. Semoga Allah mudahkan kita semua dalam mendidik anak menjadi manusia yang mandiri dan berakhlak mulia.


#ODOP

#Day6

Ratna Hanafi
Hai! Saya Ratna Hanafi. Seorang istri dan ibu rumah tangga yang tertarik dengan dunia kepenulisan. Menulis adalah panggilan jiwa dan cara untuk hidup abadi.

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email