Blog Pribadi Ratna Hanafi

Review Film Tilik dan Cream

21 komentar



Sinopsis Film Tilik

Cerita bermula dari serombongan ibu-ibu dari kampung yang hendak menengok Bu Lurah di rumah sakit. Mereka menempuh perjalanan jauh dengan menaiki truk. Di tengah-tengah serombongan ibu-ibu ada Bu Tejo (Siti Fauziah) dan Yu Sam (Dyah Mulani) yang membicarakan  Dian (Lully Syahkirsani), kembang desa yang menyedot banyak perhatian masyarakat. 

Bu Tejo mengatakan kalau Dian ini bukanlah wanita baik-baik, dan meresahkan warga.  Asumsinya diperkuat dengan beberapa bukti-bukti yang dia dapatkan dari internet. Bu Tejo juga pernah secara tidak sengaja mendapati Dian pulang malam diantar oleh lelaki dalam keadaan muntah-muntah. Ditambah lagi dengan status Dian yang masih single, padahal di usianya yang menurut pandangan masyarakat desa sudah matang, seharusnya Dian sudah menikah. Tentu saja Dian menjadi sasaran empuk untuk dipergunjingkan.

Yu Ning (Brilliana Arfira Desy) sosok yang skeptis dan tidak mudah percaya dengan berita-berita dari internet, mencoba untuk meredam gosip-gosip yang dilontarkan oleh Bu Tejo. Yu Ning membantah semua tuduhan-tuduhan Bu Tejo. Namun, bantahan tersebut selalu dipatahkan oleh Bu Tejo. Keadaan semakin memanas dengan sosok Bu Tri (Angeline Rizky) yang selalu membenarkan perkataan Bu Tejo. 

Babak selanjutnya, setelah menempuh perjalanan panjang dengan segala rintangannya, sampailah rombongan ibu-ibu ini di rumah sakit. Sayangnya setelah sampai di sana, mereka tidak bisa menengok Bu Lurah karena masih di ruang ICU. Ibu-ibu yang merasa kecewa menyalahkan Yu Ning karena salah memberikan informasi. Di tengah-tengah warga yang sedang kecewa, lagi-lagi sosok Bu Tejo hadir dengan memberikan solusi. Bu Tejo mengajak Ibu-ibu ke Pasar Beringharjo.

Adegan belum berakhir. Film ditutup dengan sosok Dian yang masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil ada sosok pria paruh baya. Dian menanyakan kepastian hubungannya dengan pria tersebut. Hubungannya terganjal oleh restu Fikri, yang ternyata adalah anak dari pria paruh baya tersebut.

Film yang disutradari oleh Wahyu Agung Prasetyo ini berhasil menyedot perhatian publik dengan kehadiran Bu Tejo yang memiliki karakter yang kuat. Film yang berdurasi 32 menit ini memuat banyak pesan moral. Salah satunya yang paling menonjol adalah tentang budaya gibah, budaya yang sangat kental di masyarakat khususnya kalangan ibu-ibu.

Sayangnya, di akhir cerita publik seakan dibuat kecewa. Tidak ada kejelasan tentang berita siapa yang benar dan salah tentang sosok Dian. Penonton diminta untuk menyimpulkan sendiri pesan yang tersirat di dalam film tersebut.

Sinopsis Film Cream

Film cream menceritakan tentang penemuan seorang ilmuwan jenius bernama Dr. Bellifer dalam bentuk cream. Publik bertanya tentang kehebatan cream. Sang Ilmuwan kemudian memaparkan kehebatan dari produk ciptaannya. Produk yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit, dan membuat dunia menjadi jauh lebih baik.

Cream bahkan mampu memperbaiki kerusakan otak manusia, menumbuhkan pepohonan, menghidupkan orang mati, memperbaiki kendaraan, membuat orang menjadi kaya, bahkan bisa bermutasi dan menggandakan diri seperti amoeba.

Sayangnya orang-orang pun mulai ketergantungan dengan cream. Hal ini membuat beberapa pihak mulai mencari cara untuk menjatuhkan cream dengan menebar isu melalui media. Cream dikatakan dapat menyebabkan penyakit HIV/Aids. Bahkan isunya terbuat dari mayat bayi, dan penciptanya adalah seorang pemerkosa. Terjadilah kerusuhan yang membuat produk cream akhirnya harus ditarik dari peredaran dan dimusnahkan. Sang Ilmuwan pun dipenjara atas tuduhan tersebut dan dianggap membuang-buang waktu. 

Hikmah di balik Film Tilik dan Cream

Saya menangkap pesan, baik dari Film Tilik maupun Cream, bahwa kita harus berhati-hati ketika menerima sebuah berita atau informasi. Skeptis terhadap pemberitaan yang muncul di permukaan. Meski kabar burung seringkali akurat kebenarannya, namun kita tidak boleh langsung percaya begitu saja. Kita harus mencari tahu kebenarannya dengan mencari informasi dari berbagai sumber. Salah-salah kita bisa dicap sebagai penyebar berita hoaks.


#ODOP

#Challenge2
#Tugas Wajib
#Day11

Ratna Hanafi
Hai! Saya Ratna Hanafi. Seorang istri dan ibu rumah tangga yang tertarik dengan dunia kepenulisan. Menulis adalah panggilan jiwa dan cara untuk hidup abadi.

Related Posts

21 komentar

  1. Nah, iya setuju dengan pesan di akhir. Kita memang tak boleh menelan mentah-mentah segala informasi. Baiknya dicari tahu kebenarannya terlebih dahulu.

    Seksus terus Kak.

    BalasHapus
  2. sebenarnya jadi ada benang merahnya juga ya dari film tilik dan cream ini, untuk tidak mentah-mentah mencerna sebuah informasi. Keeeece!

    BalasHapus
  3. Setuju banget sama hikmah yang ditulis kakak..
    Semua informasi harus di cross check dulu..

    BalasHapus
  4. Masih penasaran sama bahan baku pembuatan cream, sii

    BalasHapus
  5. Yang paling mantap itu Bu Tejo, hehe. Instingnya kok mendekati akurat gitu :D

    BalasHapus
  6. Setuju..... saring sebelum sharing itu penting dilakukan:)

    BalasHapus
  7. Yups! Menyaring informasi penting sekali di tengah arus informasi yang bebas mengalir.

    BalasHapus
  8. Sangat setuju dengan pesan yang ditulis kakak. Kita harus mencari tahu kebenaran suatu informasi. Agar tidak menjadi penyebar berita hoax. Sukses, Kak. 😊

    BalasHapus
  9. Dibalik popular nya film ini menyimpan pesan moral yang bisa kita ambil sebagai penontonnya

    BalasHapus
  10. dalam kedua film tersebut saya mendapatkan pesan. bahwa manusia tidak pernah sempurna dan tidak akan pernah sempurna sampai kapanpun heuheueheuheu

    BalasHapus
  11. tidak menelan mentah mentah informasi, mencerna dan mencari tau apa yang sesungguhnya terjadi adalah salah satu bentuk memproteksi diri dan pikiran juga.

    BalasHapus
  12. Benar banget, pelajaran untuk siapapun agar selalu menyaring informasi

    BalasHapus
  13. sippp bagus sekali kak ... maaf sata tadi jadi terinspirasi loh

    BalasHapus
  14. Reviewnya keren Kak. Suka tulisannya.

    BalasHapus
  15. Saya sepakat sama pesannya. Seiring dengan perkembangan sistem informasi yang semakin canggih, daya kritis kita juga harus selalu ditingkatkan

    BalasHapus
  16. No Hoax hoax, setuju pesannya. Kedua film ini maksudnya kesana

    BalasHapus
  17. Setuju kak, crosscheck informasi terlebih dahulu 👍

    BalasHapus
  18. sangat setuju dengan hikmah yang dapat kita ambil dari dua film ini, belajar tabayyun, agar kita tidak termakan hoax

    BalasHapus
  19. sepakat kak kalau kita jangan menerima informasi mentah-mentah. perlu dicari tahu dulu kebenarannya. tapi ada saran dari saya kak, sebaiknya kata "skeptis" diganti dengan kata "kritis" karena makna skeptis itu terus mempertanyakan suatu realitas tanpa mau menerima kebenaran:)

    BalasHapus
  20. Reviewnya singkat namun langsung menuju inti. Ini bagus sekali, setuju dengan simpulan hikmah yang dapat dipetik

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email