Blog Pribadi Ratna Hanafi

Tiga Puluh Menit Bersamamu

Posting Komentar

Lima belas menit berlalu. Aku terus menatapmu. Memperhatikan sikapmu sedari tadi. Kau bilang ingin mengobrol denganku, lalu mengapa Kau hanya diam terpaku menatap cangkir espresso di hadapanmu? 


Dua puluh menit. Aku mulai gila. Haruskah aku yang memulai percakapan ini? Kau yang memintaku untuk datang ke sini. Mengatakan bahwa ada hal penting yang ingin dibicarakan. Hanya tiga puluh menit waktumu. Bukankah sebaiknya langsung saja diutarakan. Kalau aku yang memulai, tentu topiknya akan berbeda. 


Kuketuk-ketukkan jemariku di atas meja. Bersenandung lirih memecah keheningan. Ah, tidak. Tidak hening sama sekali. Sedari menit pertama aku duduk di sini, tempat ini begitu ramai. Bahkan suara alunan musiknya pun terdengar keras. Hanya di antara kita saja yang hening.


Dua puluh dua menit. Akhirnya Kau membuka percakapan dengan dua kata ,"Apa kabar?" Geli rasanya kumendengar kata-kata itu. Konyol. Apa maksudnya? Haruskah kujawab pertanyaan basa-basimu? 


Menit berikutnya Kau kembali diam. Menghela nafas panjang. Matamu tertuju pada tas di pangkuanmu. Tanganmu merogoh-rogoh mencari sesuatu. Entahlah apa yang sedang dicari. Handpone kah? Tidak. Handphone milikmu ada di atas meja. Lalu apa?


Dua puluh lima menit. Akhirnya Kau mendapatkan apa yang Kau cari. Sebuah novel berjudul "Bidadari Surga" karya Tere Liye. Novel yang pernah kuberikan padamu sebagai hadiah ulang tahun. Dua tahun yang lalu sebelum akhirnya Kau pergi menghilang tanpa kabar.


Aku heran padamu. Bukankah Kau bilang ingin mengobrol. Lalu mengapa sekarang hanya menyerahkan novel ini padaku? Dua puluh lima menit berlalu dan Kau hanya ingin mengembalikan novel ini? 

 

"Ini novel yang mas beri buatku waktu itu." Akhirnya Kau angkat bicara.


"Ya, aku tahu. Untuk apa Kau berikan kembali padaku?" Tanyaku penasaran.


"Buka saja." Jawabmu singkat.


Kuambil novel di hadapanku. Rasanya ada yang aneh. Ada sesuatu yang mengganjal di dalamnya, seperti benda yang sengaja diselipkan. Kubuka novel di tanganku. Sepucuk kertas merah tua terselip di dalamnya. Kuambil kertas merah tua tersebut.


"Jadi, Kamu butuh tiga puluh menit waktuku hanya untuk ini? Inikah yang disebut ingin mengobrol denganku?" Aku tidak tahu lagi harus berkata apa. 


"Iya Mas. Maaf sudah membuang-buang waktu Mas. Maaf untuk tiga puluh menitnya dan untuk dua tahun tanpa kepastian." 


Tiga puluh menit. Waktu seperti berhenti tiba-tiba. Aku seperti tersedot ke dalam ruang hampa. Terjawab sudah pertanyaanku. 


Undangan Pernikahan



Yang berbahagja

Hanum dan Tio



Tiga puluh menit bersamamu, hatiku hancur seketika. Tidak... Tidak... Bahkan selama dua tahun ini Kau telah menghancurkan hatiku. Terakhir kali kita bertemu bukankah Kau bilang akan melanjutkan studi S2 di Kairo. Aku akan melamarmu dan menikahimu setelahnya. Ah, sudahlah lupakan. Semoga Kau bahagia bersamanya.



#ODOP

#Day14

Ratna Hanafi
Hai! Saya Ratna Hanafi. Seorang istri dan ibu rumah tangga yang tertarik dengan dunia kepenulisan. Menulis adalah panggilan jiwa dan cara untuk hidup abadi.

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email