Blog Pribadi Ratna Hanafi

CIPA dan CPRS, Dua Penyakit Langka yang Berkebalikan

7 komentar
Saudara Gie Seok dipukuli sekelompok anak nakal di sekolahnya. Gie Seok berusaha menolongnya dengan meminta mereka memukulnya karena ia tidak bisa merasakan sakit meski dilukai sekalipun. Namun sekelompok anak nakal ini tidak percaya perkataan Gie Seok. Demi membuktikan perkataannya, Gie Seok melukai tangannya hingga darah bercucuran. Mereka semua lari ketakutan melihatnya. Ibu Gie Seok pun melarikannya ke rumah sakit. Ia didiagnosa menderita CIPA (Congenital Insensivity to Pain with Anhidrosis).

Di sisi lain di pusat pengendalian rasa sakit Rumah Sakit Hanse Seol, seorang pasien berteriak kesakitan. Seorang kakek di sebelahnya tanpa sengaja menyenggolnya. Seluruh tubuhnya nyeri meski hanya tersenggol sedikit. Ia mengatakan kalau dirinya menderita CPRS (Complex Regional Pain Syndrome).

Dua kisah di atas hanyalah penggalan film drama korea Doctor John. Saya lupa episode berapa. Sejak episode pertama, saya selalu dibuat penasaran dengan istilah-istilah kedokteran yang belum pernah saya dengar selama ini. Kali ini pun saya dibuat penasaran dengan penyakit CIPA dan CPRS. Saya pun mencari tahu informasi terkait penyakit ini di google.

Mengenal CIPA dan CPRS

Saya baru tahu kalau di dunia ini ada penyakit bernama CIPA dan CPRS. Mereka seperti dua saudara dengan karakter yang bertolak belakang. Jika CIPA tidak bisa merasakan sakit meski ia terluka, maka CPRS kebalikannya. Penderita CPRS akan merasakan sakit teramat sangat walau kulitnya hanya terkena tiupan angin.

CIPA menyebabkan seseorang kehilangan fungsi saraf sensori dan respons kontrol terhadap suhu dan rasa sakit. Akibatnya, ia tidak bisa merespons dengan cepat ketika tubuhnya terkena rangsangan dari luar. Penderita CIPA tidak bisa merasakan sakit, kepanasan, maupun kedinginan. Tubuhnya tidak berkeringat. 

Mungkin kita berpikir, CIPA tidak berbahaya. Kenyatannya penyakit ini berbahaya. Dalam banyak kasus, penderita CIPA tidak mampu bertahan hingga usia 25 tahun. Ketika tubuh tergores, atau terpapar bakteri dan virus, seharusnya tubuh merespon dengan rasa sakit. Bagi penderita CIPA tentu saja berbaya jika mereka tidak secara konstan memeriksa kondisi tubuhnya secara berkala, terlebih ketika ada luka, memar, dan cedera yang tidak dirasakannya.

Berbanding terbalik dengan CPRS. Penyakit ini menyebabkan penderitanya selalu merasa sakit yang luar biasa. Penyebabnya adalah kerusakan sistem saraf dan sistem saraf pusat di otak. Rasa sakitnya dapat begitu merusak hingga menyebabkan masalah kesehatan mental, seperti depresi dan gangguan kecemasan.

Seseorang yang menderita CRPS akan merasa tubuhnya panas seperti terbakar dan mengalami rasa nyeri yang menusuk tubuh serta sensasi berdenyut-denyut. Hal ini juga dapat menyebabkan mati rasa, bengkak, nyeri sendi, dan insomnia. 

Sampai di sini dulu pembahasan CIPA dan CPRS. Kita Lanjut di lain kesempatan.

#ODOP

#Day52




Ratna Hanafi
Hai! Saya Ratna Hanafi. Seorang istri dan ibu rumah tangga yang tertarik dengan dunia kepenulisan. Menulis adalah panggilan jiwa dan cara untuk hidup abadi.

Related Posts

7 komentar

  1. Saya juga baru tahu, Mbak tentang kedua penyakit itu. Serem ya. Satunya nggak bisa merasakan sakit. Yang satunya lagi merasakan sakit untuk hal-hal biasa :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, aku juga jadi tahu alasan kenapa dokter bilang kalo bayi atau balita nangis saat terjatuh itu justru bagus. Berarti dia bisa merasakan sakit.

      Hapus
  2. Iya ya, sebuah drama bisa mengantarkan kita pada informasi baru, keren mbak nya literasinya tinggi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba. Sutradaranya keren mengemas ceritanya.

      Hapus
  3. Wah.. Baru tau..
    Dan blm pernah nonton dr. John, jd pengen nonton

    BalasHapus
  4. Wah. Terima kasih atas informasi kedua penyakit itu, Kak. 🙏😊

    BalasHapus
  5. Aku juga baru tahu tentang penyakit ini. Haduh ngeri...
    Tfs, ya kak....

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email