Blog Pribadi Ratna Hanafi

Dari Drama Korea, sampai Pembahasan Singkat Eutanasia

4 komentar



ratnahanafi.blogspot.com


Saya bukanlah pecinta drama korea, tetapi juga tidak menolak jika otak saya diracuni drama korea. Bagi saya drama korea itu seperti candu. Saya selalu menolak, mengatakan tidak suka, tetapi ketika sudah mulai menonton satu episode, sulit rasanya untuk berhenti. Selalu ingin dan ingin terus menonton hingga selesai.

Ada banyak faktor mengapa saya tidak suka film drama korea. Alasan pertama karena terlalu berlebihan dan halu jalan ceritanya. Zaman masih pacaran dulu, saya selalu membayangkan pacar saya bersikap romantis bak oppa-oppa di film korea. Saya juga selalu membayangkan dia yang sekarang sudah menjadi mantan itu, selalu ada untuk saya kapan pun dan di mana pun saya membutuhkannya. Menangkap saya dari belakang saat akan terjatuh, muncul di hadapan saya di saat yang tepat, dan kehaluan-kehaluan lainnya. Kenyataannya itu semua tidak terjadi. Banyak adegan-adegan yang menurut saya enggak banget. 

Alasan kedua karena saya mudah terbawa perasaan. Setelah saya putus dari pacar saya, hiburan saya hanya drama korea. Apakah dengan menonton drama korea hati saya yang hancur kemudian membaik? Tidak sama sekali. Saya terlalu baper. Bukannya move on, justru saya teringat terus mantan saya. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti menonton film drama korea.

Nah, ceritanya sudah tiga hari ini saya menonton film drama korea. Setelah sekian ratus purnama melampaui episode demi episode kehidupan, akhirnya saya kembali menonton film drama korea. Agak deg-degan sih sebenarnya. Berpikir yang iya, iya, " Ah, paling juga sama aja kaya yang udah-udah." Anehnya saya tetap menonton. 

Judul drama korea yang saya tonton adalah Doctor John. Sebelum lanjut menonton, saya cari sinopsisnya di google. Ternyata ini film drama seri televisi Korea Selatan tahun 2019. Film ini diadaptasi dari  novel Jepang yang berjudul "On Hand of God" karya Yo Kasukabe. Sampai di sini saya mulai sedikit tertarik dan penasaran. Sebelum selesai membaca sinopsis, saya kembali menonton filmnya.

Awal cerita, saya bingung mengapa judulnya Doctor, tapi kok settingannya di dalam penjara? Sabar Ratna, sabar. Jangan terlalu cepat ambil kesimpulan. Saya lanjutkan lagi menonton. Keadaan panik, seorang narapidana dibawa ke klinik penjara dalam keadaan tidak sadar dan sulit bernafas. Dokter jaga yang bertugas tidak sanggup menangani, kemudian kabur. Tiba-tiba masuklah seorang narapidana lain ke ruang klinik. Saya berpikir itu adalah persekongkolan antar napi yang berusaha untuk kabur dari penjara. Ternyata dugaan saya salah. Napi yang baru saja masuk mengambil suntikan, dan menancapkannya di perut napi yang sekarat. Dia mengeluarkan darah dari tubuh napi yang sekarat tersebut. tidak lama kemudian napi tersebut dapat bernafas dengan teratur, dan bisa diselamatkan. Dari sini saya menduga bahwa dia adalah si dokter John. Pertanyaannya kemudian, mengapa dia ada di penjara sebagai narapidana?

Saya mulai menonton dan mengamati. Awalnya saya mau mengulasnya, tetapi setelah melihat episodenya yang panjang mirip sinetron Tersanjung, saya putuskan hanya akan menontonnya saja. Sampai di suatu episode saya menemukan hal menarik. Sang dokter ternyata dipenjara karena melakukan praktik eutanasia. Saya tertarik dengan istilah baru ini. Saya hentikan aktivitas menonton drama korea ini dan mulai mencari-cari informasi mengenai istilah eutanasia. 

Setelah membaca beberapa artikel, saya menemukan kata lain dari eutanasia yaitu 'suntik mati'. Zaman kuliah dulu saya sering menggunakan istilah 'suntik mati' jika sudah buntu ide atau kesal dengan seseorang. "Sudahlah, disuntik mati aja. Percuma juga, udah enggak ada harapan." atau " Kesel banget deh, bisa nggak tuh orang disuntik mati aja." Bahkan seinget saya, zaman SD dulu pernah menggunakan kata 'suntik mati' saat bermain polisi-polisian dengan sepupu saya. Sepupu saya ini memang punya kecenderungan psikopat. Wkwkwkwk...

Lanjut ke pembahasan eutanasia yah. Ketika seorang pasien sudah difonis tidak memiliki harapan untuk hidup lagi, atau hidupnya hanya bergantung pada ventilator, maka seorang dokter secara sadar akan melepaskan penderitaan si pasien dengan melakukan praktek eutanasia. Tentu saja setelah mendapatkan izin dari pihak keluarga pasien yang bersangkutan. 

Mengapa disebut dengan istilah eutanasia? Kata eutanasia dimabil dari bahasa Yunani, eu dan thanatos. Eu berarti baik, tanpa penderitaan, dan thanatos  berarti mati. Bila dirangkai menjadi satu berarti kematian tanpa penderitaan. Bukan menyebabkan kematian, tetapi untuk mengurangi penderitaan seseorang yang sedang menghadapi kematiannya. 

Pertanyaan saya selanjutnya adalah, itu artinya praktik ini legal dong? Tjandra Sridjaja Pradjonggo dari Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Wisnuwardhana Malang, dalam jurnal penelitiannya menyebutkan, 


"Tindakan membunuh bisa dilakukan secara legal dan dapat diprediksi waktu dan tempatnya itulah yang selama ini disebut dengan euthanasia. Pembunuhan yang sampai saat ini masih menjadi kontroversi dan belum bisa diatasi dengan baik atau dicapainya kesepakatan yang diterima oleh berbagai pihak. Di satu pihak, tindakan euthanasia pada berbagai kasus dan keadaan memang diperlukan. Sementara di lain pihak, tindakan ini tidak diterima karena bertentangan dengan hukum, moral, dan agama.

 

Di beberapa negara memang dilegalkan, sementara di Indonesia sendiri tidak dilegalkan. Mengutip dari harian kompas, Kode Etik Kedokteran Indonesia tahun 2012 melarang dokter membantu pasien yang tidak mungkin sembuh menurut medis untuk melakukan eutanasia. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) juga memasukkan hal itu sebagai tindak pidana.

Pembahasan ini sebenarnya masih panjang. Saya membaca jurnal penelitian Mas Tjandra (berasa abang sendiri aja manggil Mas Hehe), ternyata eutanasia ada banyak jenisnya. Saya tidak akan membahasnya di sini, nanti saya dikira menyaingi Mas Tjandra. Cukup sampai di sini saja, kalau kalian jadi penasaran karena tulian saya tentang hal ini, silahkan cari sendiri penelitiannya Mas Tjandra. Saya mau melanjutkan nonton drama korea Hehehe....



#ODOP

#entahharikeberapa

*Harusnya ini bukan hutang, tapi jadi hutang karena terupload lebih dari jam 11.59. Wkwkwkwk....



Ratna Hanafi
Hai! Saya Ratna Hanafi. Seorang istri dan ibu rumah tangga yang tertarik dengan dunia kepenulisan. Menulis adalah panggilan jiwa dan cara untuk hidup abadi.

Related Posts

4 komentar

  1. Pembahasan yg berat yak? Kalo dipikir2 mungkin euthanasia itu dilarang krn seolah dokter itu Tuhan. Aku juga pernah baca kalau seseorang itu berhak memilih . Termasuk tentang kpn n bagaimana ia mati. Eh, aku pun nggak berani komentar. Bukan wilayahku 🤗

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah berkunjung ke blogku kakak cantik. Begitulah adanya. Menarik buat dibahas.

      Hapus
  2. Aku pernah dengar ini di film barat sama novel gitu, ya lupa aku tuh.

    Baru tau isi dramanya ini ternyata. Banyak yg rekomendasikan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagus mba. Tetep ada romantismenya, tp nggak sebanyak dramkor yg lain. Wajib nonton sampe habis.

      Hapus

Posting Komentar