Blog Pribadi Ratna Hanafi

Depresi karena Belajar Daring? Ini Cara Mengatasinya

Posting Komentar


Belum lama kemarin saya dikejutkan dengan berita tewasnya seorang anak remaja dari Goa Sulawesi Selatan. Sebut saja Mawar. Dia ditemukan adiknya sudah tidak bernyawa di kamarnya. Sang adik langsung berlari ke kebun menemui kedua orangtuanya dan memberitahukan apa yang terjadi. Tidak lama setelah itu, polisi datang menyelidiki kasus tersebut.

Remaja berusia 16 tahun tersebut diduga tewas bunuh diri dengan meminum racun. Mawar ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa dengan mulut berbusa. Dugaan tersebut diperkuat oleh temuan polisi di kamar Mawar. Polisi menemukan segelas teh yang telah dicampur racun, dan botol racun serangga di kamar Mawar.

Sebelum tewas, Mawar sempat membuat video detik-detik kematiannya di handphonenya. Motif sementara dari temuan video tersebut, Mawar bunuh diri karena depresi. Banyaknya tugas daring  dari sekolah dan susahnya jaringan internet di rumahnya menjadi alasannya nekat mengakhiri hidup dengan menenggak racun serangga.

Semenjak diberlakukannya PSBB untuk menekan laju persebaran Covid-19, pemerintah mengeluarkan kebijakan bagi semua siswa untuk belajar daring dari rumah. Dampaknya, tidak hanya siswa yang pusing, emak pun ikutan pusing. 

Permasalahannya tidak hanya karena banyaknya tugas, tetapi juga masalah fasilitas dan jaringan internet. Tidak semua orangtua memiliki smartphone yang mendukung kegiatan belajar daring. Belum lagi mereka harus membeli kuota untuk bisa mengakses jaringan internet. Serta permasalahan lainnya.  Tidak heran jika sampai menyebabkan depresi.

Depresi? No Way!!

Depresi bisa menyerang siapa saja. Mulai dari usia anak-anak hingga dewasa. Penyebabnya sangat beragam. Secara umum dikarenakan gangguan masalah hati yang mempengaruhi perasaan seseorang. Jika dibiarkan berlarut-larut akan menyebabkan gangguan kesehatan mental dan juga fisik. Dampak terburuknya adalah tindak bunuh diri seperti yang terjadi pada kasus di atas.

Pada dasarnya depresi bisa diatasi dengan mengenal gejala dan tanda-tandanya. Beberapa tanda yang umum antara lain :

  • Kehilangan nafsu makan
  • Kehilangan motivasi untuk melakukan aktivitas yang disukai
  • Sulit tidur atau bahkan hanya tidur saja seharian
  • Emosi yang berubah-ubah
  • Merasa tidak nyaman dengan keadaan sekitar
Dengan mengenali tanda-tanda tersebut, kita bisa mengatasi depresi yang dapat memicu tindak bunuh diri. Setelah mengetahui beberapa gejalanya, lalu bagaimana cara mengatasinya?

1. Curhat

Ketika kita memiliki permasalahan hidup, baiknya curhat dengan siapa pun yang kita percayai. Menceritakan permasalahan kita pada seseorang bisa membantu mengurangi beban pikiran. Ingat, kita ini bukan robot. Bahkan robot pun memiliki kapasitas memori penyimpanan yang terbatas.

2. Mendengarkan Curhatan Orang lain dan beri solusi

Sebaiknya jika ada teman atau saudara yang sedang curhat, dengarkan. Biarkan mereka curhat sampai tuntas. Setelah itu, jika memang dia membutuhkan solusi, baiknya kita beri masukan dan motivasi yang dapat memberinya semangat.

3. Sibukkan Diri dengan Kegiatan Positif

Seseorang yang berpikir untuk bunuh diri tentunya pikirannya dipenuhi dengan hal-hal negatif. Sangat tidak baik jika dibiarkan berlarut-larut. Ada baiknya menyibukkan diri dengan kegiatan positif seperti membuat es cendol misalnya. Bisa juga membuat video tiktok bersama teman-teman dan sebagainya.

4. Perkuat Iman dan Dekatkan Diri kepada Sang Pencipta

Saya juga Bersyukur sejak kecil orangtua saya dan eyang memebekali saya dengan ilmu agama yang kuat. Dalam keadaan putus asa saya masih bisa berpikir jernih. Seandainya saya mati bunuh diri, tentu saya merugi. Urusan saya di dunia bisa saja selesai, tetapi urusan saya dengan Sang Khalik belum selesai. Saya merasa takut dengan Allah. Saya beristighfar, berdoa mohon kekuatan, dan terus bertawakal. 

5. Bonus tips, Pikirkan Hal Konyol

Saya sendiri secara pribadi pernah berada di titik terendah yang membuat saya kehilangan motivasi hidup. Saya pun berpikir untuk mengakhiri hidup dengan berbagai cara. Konyolnya saya tidak menemukan cara terbaik mati bunuh diri tanpa melewati rasa sakit. Saya ini tidak kuat menahan sakit. 

Mau loncat dari menara sutet, phobia ketinggian. Menabrakkan diri, belum tentu langsung mati di tempat. Bagaimana jika saya tetap hidup tapi cacat? Naudzubillah. Memotong urat nadi dengan pisau, tidak kuat melihat darah. Gantung diri dan minum racun pun prosesnya lama. Terakhir yang paling konyol, menembakkan diri denga pistol. Dari mana saya dapatkan pistol? Yang ada pistol mainan isi air. Kapan matinya? Hehe...

Cegah depresi sebelum terlambat. Kenali gejala dan penanganannya.


#ChallengePekan7
#ODOP
#OneDayOnePostChallenge


Ratna Hanafi
Hai! Saya Ratna Hanafi. Seorang istri dan ibu rumah tangga yang tertarik dengan dunia kepenulisan. Menulis adalah panggilan jiwa dan cara untuk hidup abadi.

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email