Blog Pribadi Ratna Hanafi

Filosofi Wajik dan Jaddah dalam Hantaran Pengantin, Kamu harus tahu!

Posting Komentar



Gambar : hantaran wajik, jaddah, & lemper



Ahamdulillah, hari ini semua berjalan dengan lancar. Pesanan pastel, lemper, hantaran buah, wajik, dan jaddah bisa diselesaikan tepat waktu. Meski sempat ada kendala di pagi hari. Tapi semua kendala itu bisa diatasi dengan baik.

Rian yang biasanya selalu nempel bundanya, hari ini mau bermain dan tidur siang dengan ayah. Biasanya Rian rewel kalau sudah waktunya makan dan tidur. Kali ini, dia mau diajak kerjasama. Bagi saya, ini sebuah prestasi buat Rian. Saya mengapresiasinya dengan kecupan dan ucapan terima kasih kepadanya. Saya juga meminta maaf kepada Rian karena tidak bisa menemaninya bermain. 

Hari ini bundanya sibuk membantu eyang menyelesaikan pesanan hantaran. Eyang yang membuat wajik, jaddah, lemper, dan pastel. Bunda bagian packing dan menghias. Sejak dulu eyang memang pandai memasak dan membuat jajanan, terutama pastel, lemper, wajik dan jaddah. Semua dikerjakannya sendiri. Bila ada pesanan hantaran makanan seperti hari ini, bisa semalaman tidak tidur. 

Salah satu hantaran wajib dalam pernikahan adat jawa adalah wajik dan jaddah. Keduanya berbahan dasar beras ketan. Bedanya kalau wajik putih, sedangkan jaddah biasanya berwarna cokelat. Ada juga yang berwarna hijau, dan merah tergantung permintaan calon pengantin dan keluarganya. Tapi rata-rata berwarna cokelat. Bukan tanpa alasan, semua itu mengandung filosofi tersendiri.

Filosofi Wajik dan Jadah 

Di dalam pernikahan adat jawa, ada beberapa makanan yang wajib disediakan. Makanan-makanan wajib tersebut memiliki filosofi dan doa tersendiri bagi kedua mempelai pengantin. Jumlah bilangannya pun biasanya diperhitungkan. Tidak boleh kurang atau pun lebih karena menurut kepercayaan orangtua jaman dahulu, semua itu menentukan apakah rumah tangganya akan langgeng atau tidak. wallahualam.

Dua makanan yang wajib ada diantaranya wajik dan jaddah. Makanan ini terbuat dari beras ketan dan kelapa. Proses pembuatannya membutuhkan waktu yang panjang. Mulai dari proses perendaman, sampai tahap akhir bisa memakan waktu seharian. Bukan lagi hitungan satu atau dua jam. Tidak heran kalau eyangnya Rian tidak tidur semalaman untuk mengerjakan satu hantaran ini. Belum lagi hantaran-hantaran lainnya. 

Ada makna tersendiri di balik hantaran wajik dan jaddah. Kelihatannya sih sepele, hanya wajik dan jaddah. Jika menelisik ke belakang, ternyata maknanya begitu dalam. Orangtua zaman dulu ingin mengingatkan kepada pengantin agar senantiasa menjaga hubungan mereka. Pernikahan keduanya bisa selalu bersama dan lengket, tidak dapat dipisahkan oleh apa pun seperti kue wajik dan jaddah yang lengket.

Proses pembuatannya yang lama juga memiliki arti. Makna dari proses pembuatannya bahwa kedua pasangan diharapkan tidak mudah putus asa dalam membina rumah tangga. Harus memiliki kesabaran dalam menghadapi setiap permasalahan rumah tangga. Harus bisa saling mendukung dan mengingatkan satu sama lain. 

Itulah filosofi dan makna wajik dan Jaddah. Alhamdulillah saya menemukan suami dan mertua yang baik dan pengertian. Bisa saling kerjasama. Jangan iri yah kalau saya bisa akur dengan mertua saya. Bahkan hubungan kami tidak seperti menantu dan mertua, tapi sudah seperti anak dan ibu. Seperti wajik dan jaddah, hubungan kami begitu lengket satu sama lain. Hehe...


#ODOP
#Day55


Ratna Hanafi
Hai! Saya Ratna Hanafi. Seorang istri dan ibu rumah tangga yang tertarik dengan dunia kepenulisan. Menulis adalah panggilan jiwa dan cara untuk hidup abadi.

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email