Blog Pribadi Ratna Hanafi

Mengulas Cerpen Gorong-Gorong

Posting Komentar

Gorong-Gorong

Diposting oleh  Label:  pada 

Siang bolong seperti ini, aku harus mendengar Ibu mengomel lagi dan lagi. Bukan. Bukan karena harga cabai yang kian melambung. Bukan pula karena meteran listrik yang berisik tanda pulsa akan segera habis. Ibu mengomel seperti ini sudah hampir sepuluh bulan. Bayangkan, tiap pulang sekolah aku harus mendengar Ibu mengomel.

“Apa Ibu nggak capek tiap hari ngomel dan mengeluh seperti itu?” tanyaku lembut agar tidak membuat Ibu makin naik pitam.

“Kamu tahu apa, Le. Ibu lebih capek lihat orang-orang jatuh dari motor di depan rumah kita. Hampir tiap hari,” gerutu Ibu sembari menyetrika baju koko Bapak.

“Aku juga capek lho, denger Ibu ngomel terus tiap hari.” Suaraku sengaja kupelankan, takut terdengar Ibu. Tak ada respon. Mungkin Ibu tidak mendengar keluhanku barusan. Bagus lah.

“Ibu itu heran, masa iya nggak ada yang protes sama Pak Kades. Terus Kecamatan juga kok nggak curiga ada proyek mangkrak lama begini. Aneh pancen aneh,” keluh Ibu sekali lagi.

“Kenapa nggak Ibu saja yang protes ke Balai Desa?”

“Percuma, paling ya nggak ditanggapi,” seru Ibu ketus.

“Emangnya sudah pernah nyoba, Bu?”

“Ya belum. Kabarnya kan gitu.” Ibu malu-malu menyampaikan. “Lagian harusnya kalian yang muda-muda itu bergerak. Kayak RT sebelah itu, karena pemudanya pinter ngomong jadi gorong-gorongnya langsung digarap,” lanjut Ibu dengan bersungut.

“Aku boleh bersuara? Kalau Bapak sama Ibu mengizinkan, aku berani lho, Bu, protes ke Balai Desa atau melapor ke Kecamatan,” tantangku ke Ibu. Mendengarnya, Ibu justru mengkeret.

“Wis, jangan aneh-aneh, kita ini cuma wong cilik.”

“Duh, ya sudah lah terserah Ibu saja. Tapi ya mbok jangan ngomel dan ngeluh terus tiap hari.”

“Sudah-sudah. Lanjutkan saja makanmu. Makan aja lama!” omel ibu, lagi.

Begitulah ibuku. Hanya berani mengeluh di belakang. Seperti ibu-ibu lain di kampung ini. Kampung yang katanya agamis, tapi pak kadesnya nggak jelas. Dana Desa terus bergulir, namun program-programnya banyak yang tidak selesai. Bahkan ada slentingan, upah aparatur desa saja sudah enam bulan tidak ditunaikan. Benar atau tidaknya tak ada yang tahu pasti. Karena tak ada satu pun dari mereka yang berani protes secara resmi. Mereka takut dengan Pak Kades. Katanya Mbah di belakang Pak Kades sangat mumpuni. Entahlah.

Itulah sebabnya Ibu juga melarang aku dan Bapak bersuara di depan. Ibu takut kami tidak kuat menangkal serangan dari Pak Kades. Padahal jika diijinkan Ibu, aku sudah bisa menggalang suara di tingkat pemuda. Toh, sebenarnya banyak sekali yang tidak puas dengan pemerintahan Kades ini.

Akhir tahun lalu, aku pernah sekali menyampaikan dugaan penyelewengan ke tingkat kabupaten via medsos. Aku ceritakan hal ini ke Ibu. Ibu marah dan uring-uringan. Padahal sudah aku jelaskan bahwa aku hanya menyampaikannya melalui messanger, bukan di wall yang bisa dibaca banyak orang. Ibu tetap marah dan menasihatiku untuk banyak berzikir dan salat malam. Menangkal kemungkinan terburuk. Aku hanya mengiyakannya, toh memang nasihat yang baik.

Dua minggu setelahnya, malam-malam Ibu terbangun. Ia mengingat ada jemuran di luar yang belum diambil. Takut dicuri orang, Ibu keluar untuk mengangkatnya. Ndilalah Ibu melihat Pak Kades yang khusyuk menabur bunga di jembatan dekat rumah. Ibu segera berlari masuk agar Pak Kades tak melihatnya. Pikiran Ibu semakin kalut dan takut. Nasihat Ibu semakin gencar untuk tidak macam-macam mengkritisi Pak Kades sebelum aku mumpuni ilmu kebatinan.

Minggu berikutnya aku jatuh sakit, harus dirawat di puskesmas kecamatan selama sepuluh hari gara-gara nyamuk demam berdarah. Tahu apa pikiran Ibu? Ini pasti ulah Pak Kades. Berkali-kali aku sampaikan untuk tidak berpikir demikian, karena memang teman sekelasku juga ada yang terserang DB. Mungkin aku tertular darinya. Lagi pula aku takut Ibu jadi syirik karenanya. Aku meminta Ibu untuk beristigfar. Ibu malah ngomel dan memarahiku. Ya, sudahlah. Semenjak itu aku tidak berani mengkritisi Pak Kades lagi. Bukan karena takut padanya, tapi takut pada ibuku sendiri.

***

Pagi hari, saat aku sedang kebingungan mencari kunci motor, terdengar suara gedebruk di depan rumah. Lagi. Motor jatuh terpeleset tepat di depan rumah kami. Ibu dan Bapak segera berlari ke depan. Menolong si pengendara yang ternyata salah satu sesepuh desa. Untungnya beliau tidak apa-apa, hanya lecet kecil. Bapak pun menuntun motor dan menepikannya, Ibu membuatkan teh hangat.

Ibu memang kerap menjadi saksi hidup kecelakaan di depan rumah, semenjak ada proyek gorong-gorong yang tak kunjung diselesaikan. Rumah kami tepat di tikungan jalan. Dulu, jalan di gang kami aman-aman saja. Tapi karena jalan yang hanya sekitar tiga meter dibuat gorong-gorong di kanan kirinya masing-masing setengah meter, jalan pun menjadi sangat sempit. Ditambah lagi sisa tanah galian yang masih bertumpuk di beberapa sisi jalan, jika hujan datang, maka bisa dipastikan jalanan licin dan berbahaya. Terhitung sepuluh bulan sejak dibuat galian, sudah lebih dari dua puluh orang terjatuh. Memang tidak ada yang fatal, tapi tetap saja minimal mereka pijat dan memebeli obat pereda nyeri. Apakah Pak Kades peduli? Tentu tidak. Hahaha.

Ibu yang sebelumnya tidak pernah begitu peduli dengan program-program desa, sekarang menjadi pemerhati utama dan komentator ulung, meski hanya di dalam rumah. Imbasnya telingaku harus siap menerima semua komentar, keluhan dan omelan ibu. Bapak sesekali menjadi penasihat agar Ibu tak ambil pusing urusan desa. Sudah ada banyak orang yang lebih pintar katanya. Nyatanya sampai sekarang sepertinya tak ada seorang pun yang berani melapor.

Waktu bergerak dan aku tak pernah lagi memikirkan urusan gorong-gorong, apalagi urusan desa secara keseluruhan. Aku sibuk mempersiapkan diri ujian nasional dan ujian masuk perguruan tinggi negeri dengan beasiswa. Sebentar lagi statusku berubah menjadi mahasiswa. Tapi di saat masa tenangku ini, ada kabar buruk, eh kabar baik, yang kuterima.

Info ini kudengar langsung dari Ibu saat libur di hari minggu. Sepulang dari warung Ibu lancar sekali bercerita. Ternyata warung di desa memang punya dwi fungsi. Selain menjual berbagai macam barang, juga menjual info atau gosip.

“Pak, Pak, katanya Pak Kades ditangkap polisi tadi malam di rumahnya. Korupsi dana desa sudah terbongkar.” Bapak yang mendengarnya menegur Ibu untuk tidak menyebarkan gosip sembarangan.

Karena penasaran, aku segera mencari info di grup WhatsApp pemuda desa. Dan benar ternyata, ada berita yang menjadi trending topik di grup semalam. Bahkan beritanya sudah tayang di media lokal, 'Diduga Korupsi Dana Desa, Seorang Kades Ditangkap di Rumahnya'. Foto Pak Kades terpampang dengan muka pucat. Aku bingung harus senang atau sedih. Senang karena tanpa kami ketahui ada yang mungkin melapor ke pihak yang berwenang. Sedih karena mau tak mau citra desaku yang agamis akan ternodai oleh ulah Pak Kades. Apapun itu, setidaknya hidupku setelah ini akan jauh lebih nyaman sepertinya, Ibu tak akan mengomel dan mengeluh lagi. Hore!

***

 Unsur intrinsik :


1. Tema

Unsur intrinsik cerpen yang pertama adalah tema. Dalam sebuah cerpen tema merupakan ruh atau nyawa dari setiap karya cerpen. Dengan kata lain tema merupakan ide atau gagasan dasar yang melatarbelakangi keseluruhan cerita yang ada dari cerpen.

Tema memiliki sifat umum dan general yang dapat diambil dari lingkungan sekitar, permasalahan yang ada di masyarakat, kisah pribadi pengarang sendiri, pendidikan, sejarah, perjuangan romansa, persahabatan dan lain-lain.

Cerpen ini mengangkat tema realita kehidupan di masyarakat kita. Penulis di dalam cerpennya menggambarkan permasalahan pembangunan gorong-gorong yang tidak kunjung selesai. Masalah korupsi dana pemerintah oleh oknum pemerintah desa dalam hal ini adalah kepala desa.

2. Toko dan penokohan 

Tokoh dan penokohan adalah salah satu bagian yang wajib ada dalam sebuah cerpen. Keduanya memiliki arti yang berbeda. 

Tokoh merupakan pelaku atau orang yang terlibat di dalam cerita tersebut. Sedangkan penokohan adalah penentuan watak atau sifat tokoh yang ada di dalam cerita. Watak yang diberikan dapat digambarkan dalam sebuah ucapan, pemikiran dan pandangan dalam melihat suatu masalah.

Tokoh di dalam cerita ini antara lain : Aku, Ibu, Pak Kades, Bapak, mbah, pak polisi, dan orang-orang yang jatuh di depan rumah aku.

Penokohan : 

  • Protagonis: Tokoh yang yang menjadi aktor atau pemeran utama dan mempunyai sifat yang baik. Di cerpen ini tokoh utamanya adalah aku.
  • Antagonis: Tokoh ini juga menjadi pemeran utama yang menjadi lawan daripada tokoh
    protagonis. Tokoh antagonis memiliki watak yang negatif seperti: iri, dengki, sombong, angkuh, congkak dan lain-lain. Pak Kades dan ibu menjadi tokoh antagonis.
  • Tritagonis: Tokoh ini adalah tokoh penengah dari protagonis dan antara antagonis. Tokoh ini biasanya memiliki sifat yang arif dan bijaksana. Bapak di cerpen ini menjadi tokoh tritagonis.
  • Figuran: Tokoh ini merupakan tokoh pendukung yang memberikan tambahan warna dalam cerita. Orang-orang yang jatuh di depan rumah aku, mbah, pak polisi, dan teman sekelas aku yang terkena DB.

3. Alur

Unsur intrinsik yang ketiga adalah alur. Alur adalah urutan jalan cerita dalam cerpen yang disampaikan oleh penulis. 

Ada 2 macam alur yang kerapkali digunakan oleh para penulis, yakni:

  • Alur maju. Alur ini menggambarkan jalan cerita yang urut dari awal perkenalan tokoh, situasi lalu menimbulkan konflik hingga puncak konflik dan terakhir penyelesaian konflik. Intinya adalah, pada alur maju ditemukan jalan cerita yang runtut sesuai dengan tahapan-tahapannya.
  • Alur mundur. Di alur ini, penulis menggambarkan jalan cerita secara tidak urut. Bisa saja penulis menceritakan konflik terlebih dahulu, setelah itu menengok kembali peristiwa yang menjadi sebab konflik itu terjadi.
Dalam cerpen ini, penulis menggunakan alur mundur. Hal itu dikarenakan penulis menceritakan konflik terlebih dahulu, kemudian menengok kembali peristiwa yang menjadi sebab konflik itu terjadi.

4. Setting atau latar

Setting atau latar mengacu pada waktu, suasana, dan tempat terjadinya cerita tersebut. Latar akan memberikan persepsi konkret pada sebuah cerita pendek. Ada 3 jenis latar dalam sebuah cerpen yakni latar tempat, waktu dan suasana.

Tempat : Di depan rumah aku, Di kampung

Waktu : Masa kini, masa lalu, dan pagi hari

Suasana : diliputi rasa curiga, mendebarkan, sedih

5. Sudut pandang

Sudut pandang merupakan strategi yang digunakan oleh pengarang cerpen untuk menyampaikan ceritanya. Baik itu sebagai orang pertama, kedua, ketiga. Bahkan acapkali para penulis menggunakan sudut pandang orang yang berada di luar cerita.

Penulis menggunakan sudut pandang orang pertama. Penulis seakan-akan menjadi tokoh utama dengan menggunakan kata aku yang merupakan sudut pandang orang pertama.

6. Gaya Bahasa

Cerpen ini menggunakan gaya bahasa sehari-hari sehingga mudah dipahami. Penulis menyampaikan pesan moral dengan gaya bahasa yang menarik dan mudah sekali dipahami.

7. Amanat

Pesan moral yang saya tangkap dari cerpen ini adalah bahwa perbuatan jahat, dalam cerpen ini yaitu perbuatan korupsi pak kades, kelak akan mendapatkan balasan yang setimpal. Sekalipun ditutup-tutupi dengan sangat rapat, pasti akan ketahuan juga. Selain itu juga mengandung pesan moral untuk berani menyampaikan aspirasi dan kebenaran.


Unsur Ekstrinsik :

Latar belakang masyarakat :  

Cerpen ini menggambarkan realita kehidupan sosialsosial, ekonomi, politik, dan budaya di perkampungan. Kehidupan sosial emak-emak yang tidak jauh dari gosip menggosip, kehidupan politik dan budaya yang digambarkan dengan korupsi yang dilakukan Pak Kades. Serta kehidupan ekonomi masyarakat menengah ke bawah.

Latar belakang penulis :

Cerpen di atas merupakan cerpen yang ditulis oleh Naila Zulfa. Seorang ibu rumah tangga sekaligus buruh pabrik. Warga Pekalongan dan merupakan salah satu anggota ODOP Batch 6. 

Nilai yang terkandung :

Cerpen ini menjadi pilihan saya karena menarik. Mengangkat tema kehidupan. Di dalamnya mengandung nilai-nilai moral, agama, sosial, dan budaya.



#ODOP

#Day40

Ratna Hanafi
Hai! Saya Ratna Hanafi. Seorang istri dan ibu rumah tangga yang tertarik dengan dunia kepenulisan. Menulis adalah panggilan jiwa dan cara untuk hidup abadi.

Related Posts

Posting Komentar