Blog Pribadi Ratna Hanafi

Usia 20 Bulan sudah bisa makan sendiri, kok bisa?

Posting Komentar

Rian anakku,  usia 20 bulan sudah bisa makan sendiri tanpa disuapi. Bahkan seringkali dia menolak jika saya menyuapinya makan.

Budenya bertanya-tanya, "Kok bisa yah anak 20 bulan makan sendiri? Anakku saja yang usianya sudah 5 tahun kalau makan harus banget disuapin."

Ok. Saya akan cerita bagaimana prosesnya. Awal-awal mulai MPASI adalah masa sulit buat saya. Masa-masa di mana lebih banyak nangisnya daripada bahagianya. Kenapa? Karena hampir setiap hari saya harus membuang satu panci kecil bubur MPASI. Segala resep bubur MPASI saya coba, dan tidak ada yang cocok dengan seleranya Rian. Saking frustasinya saya pun berhenti memasak untuk Rian dan lebih memilih bubur instant. Sesekali saya belikan bubur bayi, itu pun sering tidak habis dimakan. 

Usia delapan bulan, saat Rian mulai bisa menggenggam benda-benda kecil, saya memberikan finger food berupa snack. Waktu itu snack yang sering saya berikan adalah promina puff dan Boromon. Dia senang sekali dan menikmatinya ketika menjumput satu per satu snacknya. Walaupun sebenarnya saya sedikit khawatir kalau-kalau Rian tersedak. Alhamdulillah, ternyata snacknya lumer di mulut, jadi aman.

Usia sembilan bulan, saya lihat gigi-giginya semakin bertambah banyak. Saya sering membuatkan puding untuk Rian. Saya sering membuatkan puding labu kuning, ubi ungu, dan jagung. Pudingnya tentu saja dengan tekstur creamy di dalam. 

Saat itu Rian sering merebut sendok yang saya gunakan untuk menyuapinya makan. Setiap kali saya suapi puding, setiap kali itu juga sendok di tangan saya ditariknya. Awalnya saya kesal, kemudian saya ceritakan hal ini kepada teman-teman di grup. Mereka menyarankan saya untuk memberikan MPASI dengan metode BLW (Baby Led Weaning). 

Apa itu BLW? 

Mengutip dari laman hello sehat, Baby-led weaning atau BLW adalah metode memperkenalkan makanan kepada bayi dengan membebaskan ia untuk makan MPASI sendiri dari awal prosesnya. Saya mulai memperbanyak refrensi mengenai metode ini. 

Makanan apa saja yang sering digunakan untuk BLW?

Ada beberapa makanan yang bisa digunakan untuk BLW. Kalau saya saat itu menggunakan potongan buah-buahan dan sayuran yang dikukus. Karena Rian suka pisang, jadi saya sering memakai pisang untuk BLW. Saya juga memberinya wortel, brokoli, kentang, dan buncis. Di antara sayuran tersebut, wortel adalah favoritnya. Saya juga membiarkan Rian memakan pudingnya sendiri. Jadi saat itu sesekali saya biarkan Rian makan sendiri tanpa disuapi. Saya hanya mengawasinya saja. 

Apa tidak berantakan? 

Tentu saja berantakan. Bahkan lebih banyak makanan yang terbuang daripada yang masuk ke perutnya. Namanya saja masih bayi, butuh proses panjang untuk mereka belajar. Saat itu eyangnya sering gemas melihat Rian makan berantakan, tapi saya kekeuh untuk menerapkan metode BLW ini ke Rian. Biarlah saya bersusah-susah dahulu, suatu saat dia akan mandiri.

Memasuki usia 12 bulan, tekstur makanannya semakin padat. Rian sudah mulai bosan makan bubur. Saya semakin bingung dan cemas karena Rian sempat GTM. Bahkan bubur instant kesukaannya pun dia tidak mau. Untung saja ASI masih lancar, jadi masih terbantu.

Saya sering membelikan bubur tim untuk Rian. Kok bubur timnya beli? Pernah beberapa kali saya buatkan, dan seperti biasa selalu ditolak. Rasanya itu setara ditolak gebetan. Aiiih... Hehehe... So, saya belikan saja bubur tim untuk Rian. Saya tempatkan di piring makannya, dan saya biarkan Rian makan sendiri. Lagi-lagi eyangnya ribut, dan saya bersikap cuek.

Waktu terus berlalu, sampai akhirnya Rian berusia 18 bulan. Dia sudah bisa makan sendiri dengan sendoknya. Saya sering meninggalkannya makan sendiri, sementara saya di dapur mencuci baju. Sekarang usia 20 Bulan, Eyang dan Budenya terkejut melihat Rian sudah bisa mandiri, makan sendiri tanpa disuapi. Tugas saya hanya memebereskan makanan-makanan yang berserakan di lantai dan meja makan. 


#ODOP

#Day35

Ratna Hanafi
Hai! Saya Ratna Hanafi. Seorang istri dan ibu rumah tangga yang tertarik dengan dunia kepenulisan. Menulis adalah panggilan jiwa dan cara untuk hidup abadi.

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar

Follow by Email