Blog Pribadi Ratna Hanafi

Anna, Jiwa yang Terluka

1 komentar


 

Lagi-lagi Anna membuat penawaran. Aku tak bisa menerimanya. Dia selalu ingin menguasaiku dengan cara itu. 

"Kau yakin kali ini tidak akan menerima tawaranku? Aku hanya ingin membantumu. Aku benar-benar tak tega melihatmu menderita. Bukankah selama ini kita selalu bersama. Aku selalu ada di sini untukmu, lalu mengapa Kau tak pernah mengizinkanku untuk membantumu?"

Sejujurnya aku memang membutuhkan kehadirannya setiap kali aku ada masalah. Hanya saja, aku tak ingin orang menganggapku gila. Dia bisa saja melakukan hal-hal di luar nalar dan di luar kebiasaanku. Aku tak mungkin mengizinkannya menguasai hidupku.

“Dengar Anna, aku sangat menghargai tawaranmu. Hanya saja aku tak ingin orang lain menganggapku gila karena perbuatanmu.”

“Ah… Sejujurnya aku sangat kecewa. Tapi baiklah, kuhargai keputusanmu. Kau punya kendali atas dirimu.” Anna beranjak dari duduknya menuju pintu, hendak keluar dari ruang kerjaku.

Namun sebelum membuka pintu, ia sempat berbalik badan,“Emma. Aku hanya ingin mengatakan aku akan selalu ada untukmu  di sini kalau-kalau Kau berubah pikiran. Aku tidak benar-benar pergi menginggalkanmu sayang.”

Anna melemparkan senyuman padaku kemudian membuka pintu dan keluar dari ruang kerjaku. Sekarang tinggal aku sendiri di ruangan ini. Kupejamkan mataku lalu menarik nafas panjang.

Kudengar suara tangisan Avel meraung-raung. Entah sudah berapa lama aku membiarkannya menangis. Aku benar-benar lelah.

“Maafkan mama sayang. Mama tidak bermaksud membuatmu frustasi dengan keadaan ini. Mama hanya lelah. Mari kita perbaiki semuanya.” Kuraih dan kudekap tubuh mungilnya. Tangisannya mulai berhenti setelah kuberi ASI. Tentu saja, sejak tadi dia menangis karena lapar dan aku mengabaikannya entah berapa lama.

Avel bayi yang kuat. Dia bisa berjam-jam menyusu, tertidur sebentar lalu bangun lagi untuk menyusu kembali selama berjam-jam. Aku benar-benar lelah dibuatnya.

***

Namanya Anastasia. Dia adalah bagian dari diriku. Entah sudah berapa lama dia ada di sisiku. Aku hanya ingat dulu ketika usiaku Sembilan tahun, aku pernah berpikir untuk membunuh sepupuku hanya karena permasalahan sepele. Arsene mengkritik penampilanku. Dia bilang penampilanku terlalu kampungan, dan cupu. Entah mengapa aku merasa sakit hati. Ingin rasanya kutinju wajahnya lalu kutikam dadanya sampai mati.

Pernah juga aku tiba-tiba mengamuk di dalam kelas. Kejadian yang benar-benar memalukan. Saat itu usiaku dua belas tahun. Seorang teman lelaki mengkritik potongan rambutku. Dia bilang aku terlihat seperti lelaki dengan potongan rambut pendek. Tak terima dengan olokannya, aku mengamuk sejadi-jadinya. Membanting meja dan kursi, lalu mengambil sapu dan memukulnya dengan gagang sapu dengan membabi buta.

Masih banyak lagi hal-hal buruk yang pernah kulakukan. Setiap kali aku sedih, marah, dan kecewa ia selalu muncul. Awalnya aku tak tahu, dan membiarkannya menguasai diriku.

Sampai suatu ketika aku mengikuti sebuah komunitas yang bernama “Love Yourself”. Sebuah komunitas yang mengajak anggotanya untuk mencintai diri sendiri. Berawal dari situlah aku mulai mengenal Anastasia. Sosok innerchildku yang terluka. Ia yang selama ini menjadi sosok jahat di dalam diriku. Sosok bayangan yang selalu ingin melindungiku yang lemah.

Dari situlah aku mulai belajar untuk mengendalikan Anastasia. Mengajaknya berbicara dari hati ke hati. Mulai menerima kehadirannya secara sadar. Memaafkan masa laluku dan mulai mencintai diriku sendiri.

Dari situ juga aku bertemu dengan Denny. Seseorang yang membuatku kembali membuka diri dan menerimanya sebagai pasangan hidupku.

Bersamanya aku hidup bahagia. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Denny meninggal dalam suatu kecelakaan. Di saat yang bersamaan, Avel lahir. Bayi mungil yang seharusnya bisa menghiburku setelah aku kehilangan Denny. Nyatanya Aku terlalu sedih atas kepergian Denny. Aku tak bisa hidup tanpanya.

Avel hampir setiap malam menangis. Aku benar-benar lelah dibuatnya. Meski aku tinggal dengan ibuku setelah Kematian Denny, tapi ibu tidak bisa berbuat banyak untuk membantuku mengatasi ini semua. Ibuku sudah terlalu tua untuk kembali merawat seorang bayi. Aku tak mungkin merepotkannya.

Di saat itulah Anastasia kembali muncul. Setiap kali aku merasa putus asa, dan frustasi menghadapi Avel, ia berusaha mengendalikan pikiranku. Avel hampir saja celaka dibuatnya. Minggu lalu Avel hampir mati tenggelam di bak mandi. Anastasia lah yang melakukan itu semua. 

Kuingat kembali apa yang pernah kupelajari dulu untuk mengendalikan Anastasia. Aku berusaha untuk menciptakan ruang kerjaku. Membayangkan hanya ada kami berdua di ruangan tersebut, lalu kami mengobrol. Melakukan penawaran. Itulah yang kulakukan. Aku tak ingin Anastasia kembali menguasai pikiranku dan melakukan hal-hal buruk terhadap Avel. Aku harus mengakhirinya demi kebahagiaan Avel.

 

*Sebuah cerpen Fiksi


Ratna Hanafi
Hai! Saya Ratna Hanafi. Seorang istri dan ibu rumah tangga yang tertarik dengan dunia kepenulisan. Menulis adalah panggilan jiwa dan cara untuk hidup abadi.

Related Posts

1 komentar

Posting Komentar