Blog Pribadi Ratna Hanafi

Dampak Covid-19, Kebiasaan Baru Selama Pandemi

Posting Komentar

Penyebaran virus corona sampai saat ini masih menimbulkan keresahan di masyarakat. Berbagai upaya pemerintah dilakukan untuk menanggulangi permasalahan ini. Mulai dari menerapkan hidup sehat dan bersih, PSBB, dan menjaga jarak telah dilakukan. Langkah ini pun dirasa cukup efektif untuk menekan penyebaran virus yang belum diketahui kapan akan berakhir.

Kita semua tahu, virus ini awal mulanya menyebar di Wuhan China. Tercatat 31 Desember 2019 untuk pertama kalinya China melaporkan kasus ini kepada WHO. Upaya mengatasi penyebaran virus dilakukan China dengan menerapkan lockdown. Kenyataannya virus tetap menyebar dengan cepat sampai hampir ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Data yang saya dapatkan dari media kompas, tercatat negara di luar china yang pertama kali terjangkit adalah Thailand pada 13 Januari 2020. Menyusul kemudian di tanggal yang sama Perancis dan Australia terkonfirmasi terjangkit pada 25 Januari 2020, Timur Tengah pada 29 Januari 2020, dan terus berkembang sampai Benua Afrika. Indonesia sendiri menempati urutan ke 36 dari 215 negara yang juga terjangkit virus Covid19 berdasarkan data WHO.

Dampak Positif dan Negatif Virus Corona

Menyebarnya virus corona di Indonesia berdampak serius. Tidak hanya pada kesehatan masyarakat, virus ini juga berdampak terhadap stabilitas sosial dan ekonomi negara. 

Dampak yang paling nyata bisa kita lihat di sektor ekonomi. Kegiatan ekonomi mengalami kelesuan. Beberapa sektor industri mengalami kemandegan, investasi merosot tajam, perdagangan internasional mengalami kontraksi, dan yang paling mengerikan adalah terjadinya gelombang PHK di mana-mana. 

Suami saya bercerita, banyak sekali karyawan di perusahaannya yang terpaksa diputus kontrak dan dirumahkan. Kegiatan produksi sementara waktu dihentikan. Selama dua minggu karyawan bekerja dari rumah. Setelah itu, aturan terus berubah-ubah dari pusat. 

Pernah di masa penerapan PSBB, kegiatan di kantor pusat tempat suami saya bekerja ditutup. Kegiatan operasional dialihkan seluruhnya ke Semarang, tempat suami saya bekerja. Di saat yang lainnya bekerja dari rumah, suami saya justru hampir setiap hari pulang malam. Hal itu berlangsung selama lebih dari satu bulan.

Satu sisi saya bersyukur karena suami saya masih bisa bekerja mencari nafkah untuk keluarga. Di sisi lain saya merasa khawatir dengan banyaknya berita kriminalitas yang beredar di media. Tentu saja dengan meningkatnya pengangguran dan kemiskinan masalah kriminalitas pun meningkat. 

Di bidang kesehatan, Pemerintah menerapkan protokoler kesehatan. Masyarakat dihimbau untuk menjaga jarak, mengenakan masker ke mana pun mereka pergi, dan menjaga kebersihan dengan mencuci tangan sebelum dan sesudah beraktivitas. Di berbagai ruang publik juga telah disediakan tempat cuci tangan. Anak saya pun yang belum genap usia dua tahun, menerapkan protokoler kesehatan. Mengenakan masker saat bepergian dan mencuci tangan kapan pun dan di mana pun berada. Hal yang menarik, setiap kali melihat keran air dia akan selalu meminta untuk cuci tangan.

Di sektor sosial, pemerintah menerapkan pembatasan sosial berskala besar di seluruh penjuru daerah. Mall-mall ditutup, sejumlah warung makan, dan toko-toko membatasi jam buka. Bahkan kegiatan keagamaan di rumah ibadah pun sempat ditutup sebelum new normal.

Hal ini menyebabkan berkurangnya kegiatan berkumpul di masyarakat. Kegiatan PKK RT, RW, kegiatan dawis, pengajian dan sebagainya ditiadakan. Begitu pun dengan kegiatan rumpin (rumah pintar) yang saya ikuti. Selama masa pandemi hingga sekarang, tidak ada kegiatan belajar atau kegiatan-kegiatan lainnya di rumpin. Koordinasi antar pengurus dan anggota dilakukan via grup whatsapp. 

Dampak virus corona di bidang pendidikan. Pemerintah menutup semua kegiatan belajar mengajar tatap muka di sekolah. Siswa dan guru melakukan kegiatan belajar mengajar melalui daring. Tidak hanya kegiatan belajar mengajar anak sekolah, bahkan kegiatan kursus, rapat, dan kuliah dilakukan secara daring. Saya pribadi selama pandemi banyak mengikuti kegiatan daring dari berbagai grup komunitas. Mulai dari grup yang gratisan sampai berbayar saya ikuti demi mengisi waktu luang dan meningkatkan skill sesuai minat dan bakat saya.

Salah satunya tentu saja komunitas ODOP (One Day One Post). Informasi pendaftaran saya dapatkan dari Mba Maritaningtyas, salah satu admin ODOP. Awalnya saya bahkan tidak tahu kalau Mba Marita adalah salah satu adminnya. Setelah berada di grup barulah saya tahu kalau beliau termasuk salah satu admin ODOP.

Motivasi saya mengikuti kegiatan ODOP seperti yang pernah saya sebutkan, yaitu untuk healing. Saya sering merasakan sakit kepala sampai sulit untuk membuka mata. Terlebih di masa pandemi ini. Saya memilih grup squad blog. Alhamdulillah, sudah berjalan 58 hari. Saya merasa sehat, bahagia, dan yang terpenting sakit kepala saya sembuh.

Sekian pemaparan saya untuk tugas di pekan 8 ini. Semoga pandemi segera berlalu. Semua peserda dan Penanggung Jawab ODOP senantiasa diberi kesehatan begitu pun dengan keluarga masing-masing.


#ODOP

#Challenge8



Ratna Hanafi
Hai! Saya Ratna Hanafi. Seorang istri dan ibu rumah tangga yang tertarik dengan dunia kepenulisan. Menulis adalah panggilan jiwa dan cara untuk hidup abadi.

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email