Blog Pribadi Ratna Hanafi

Mengenang Ayah di Hari Ayah Nasional

2 komentar





Tidak ada yang kuingat tentang ayah selain hari kematiannya, 25 November 2017. Satu minggu sebelumnya, ayah mengeluh sakit. Ia di Jakarta dan aku di Semarang. 

Hari itu, entah mengapa aku sangat ingin menghubungi ayah. Padahal biasanya aku tidak pernah peduli padanya. Jarak kami begitu jauh. Hubungan di antara kami sejak dulu seperti ada tembok pembatas yang tinggi.

Ayah di Jakarta untuk takziah tante yang baru saja meninggal dunia. Saat kutelepon, ayah bilang perutnya sakit. Tidak seperti kebiasaan ayah, hari itu dia benar-benar mengeluhkan sakitnya. Suaranya benar-benar parau. Katanya sudah tiga hari diare. Aku hanya mengingatkan untuk makan makanan sehat dan berhenti makan mie instant.

Sebelum menutup teleponnya, ayah bilang akan menetap sementara di rumah tante sampai acara empat puluh harinya. Aku hanya mengiyakan sambil berpesan untuk tetap menjaga kesehatan dan pergi ke dokter. 

Malam itu, 24 November 2017. Sepupuku di Jakarta menelepon. Mengabarkan kalau ayah sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Ia mengatar ayah ke rumah sakit. Belum lama berselang, ia menelepon lagi kalau kondisi bapak tiba-tiba drop. Kesehatannya menurun. 

Seperti tersambar petir rasanya. Tidak tahu harus berbuat apa. Tengah malam,  sepupuku kembali menelepon dan memintaku untuk segera ke Jakarta. Awalnya kukatakan esok pagi aku akan ke Jakarta naik kereta. Tapi sepupuku terus mendesakku karena kondisi ayah yang terus menurun. 

Aku bingung, tengah malam begini mau minta bantuan siapa. Bahkan tiket kereta untuk malam itu pun sudah habis. Adanya tiket kereta esok pagi. Travel pun sudah penuh. Naik bis malam sendirian ke Jakarta cukup rawan. Lagi pula aku belum pernah naik bis sendirian ke Jakarta. Akhirnya, sepupuku membelikan tiket pesawat untuk keberangkatan pagi hari. 

Aku meminta bantuan anaknya ibu kos. Untuk berjaga-jaga, aku juga meminta bantuan teman (sekarang sudah jadi suami).  Tepat saat adzan subuh, kutelepon anaknya ibu kos, tapi tidak aktif. Bahkan sampai beberapa kali ditelepon tidak juga diangkat. Akhirnya, temankulah yang menjemputku ke kos-kosan dan mengantarku ke bandara.

Pesawat take off pukul 6.15 dan landing di Jakarta pukul 7.00. Sesampainya di Jakarta, aku dijemput sepupu dan segera menuju RS. 

Sesampainya di rumah sakit, aku disambut kakak sepupu yang menunggu ayah semalaman di rumah sakit. Dia menuntunku ke ruang ICU sambil mengatakan kepadaku untuk sabar dan ikhlas. 

Tubuhku hanya bisa terpaku ketika melihat ayah sudah terbujur tak bernyawa. Ayah, sudah pergi tanpa sempat melihatku. Seketika air mata mengalir deras tanpa bisa kubendung. Aku hanya bisa diam menatap ayah yang sudah tiada.

Ya, hari itu 25 November 2017. Ayah telah berpulang tanpa sempat berpamitan denganku. Timbul penyesalan di dalam diriku. Baru saja aku berpikir untuk mengajak ayah ke Semarang nanti setelah aku menikah. Aku ingin memperbaiki hubunganku dengan ayah. Aku ingin membahagiakannya. Sayang, belum sempat kuutarakan keinginanku, ayah justru sudah berpulang ke rahmatullah.

Hari ini, 12 November 2020. Kuucapkan selamat Hari Ayah Nasional untuk Ayahku tercinta. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa ayah, menerima amal ibadah ayah, dan memberi tempat yang layak di surga bersama ibu.

Aku juga ingin mengucapkan selamat hari ayah untuk suamiku tercinta. Semoga Allah memberikan rahmat dan hidayah untukmu. Menjaga dan melindungimu selalu di mana pun berada. Barakallahu Ayah.


#ODOP

#BayarUtangPostinganDay67

Ratna Hanafi
Hai! Saya Ratna Hanafi. Seorang istri dan ibu rumah tangga yang tertarik dengan dunia kepenulisan. Menulis adalah panggilan jiwa dan cara untuk hidup abadi.

Related Posts

2 komentar

  1. Doa terbaik untuk ayahanda kak Ratna. Alfatihah

    BalasHapus
  2. Semoga alm. ayah kak Ratna mendapatkan yang terbaik di sisi Allah swt.

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email