Blog Pribadi Ratna Hanafi

Berbicara dengan Inner Child

Posting Komentar

Sulit rasanya jika kita membayangkan seandainya kembali ke masa lalu. Apa yang akan kita lakukan dan kita perbaiki dalam hidup kita di masa lalu? Ada banyak hal yang ingin saya perbaiki dalam hidup saya di masa lalu. Hal-hal yang bisa memperbaiki kesuksesan saya di masa sekarang.

Suatu kali saya pernah merasa menyesal telah memilih dia sebagai suami saya. Seandainya saat itu saya menolaknya. Saya tahu dia bukanlah seseorang yang taat dalam beragama. Saya tahu siapa pilihan hidup saya, dan saya tahu bagaimana hari-hari ke depan jika memilihnya sebagai pendamping hidup saya. Akan tetapi saya mengabaikan semua itu, dan lebih memilih untuk tetap bertahan dan menerimanya sebagai suami saya.

Saya memikirkan seandainya saya kembali ke masa-masa kuliah dulu. Seandainya saat itu saya tetap mempertahankan hubungan dengan mantan saya. Seandainya saya menikah dengan mantan saya, pasti hidup saya tidak seperti sekarang ini. 

Lalu hati kecil saya kembali berbisik," Seandainya kamu menikah dengan mantanmu, belum tentu kamu bisa sebahagia sekarang. Kamu tahu betul bagaimana background keluarganya. Mungkinkah kamu akan bisa bertahan dengannya?" 

Saya mulai membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Seandainya saya tetap menikah dengan mantan saya, kemudian saya mulai hamil dan punya anak. Saya menjadi ibu rumah tangga yang harus mengurus anak. Hidup satu rumah dengan mertua, tidak bebas. Penampilan saya kacau, wajah saya tidak terawat. Bagaimana jika kemudian rekan kerjanya dan teman-temannya yang saya kenal sejak kuliah main ke rumah, melihat kondisi saya yang kacau. Kemudian dia mulai jarang pulang ke rumah dan lebih memilih untuk berkumpul bersama teman-temannya.

Bukankah salah satu alasan saya memutuskan hubungan itu karena dia yang selalu menomorduakan saya? Di hari ulang tahunnya, saya menyempatkan meneleponnya. Mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya yang berada sekian ratus kilometer jauhnya. Lalu, apa yang terjadi? Di saat bersamaan, teman-temannya datang, lalu dia memutus telepon saya dengan alasan tidak enak dengan teman-temannya.

Keesokan harinya, dia katakan kalau semalam teman-temannya datang mengajaknya karaokean. Padahal mereka juga sudah memberi kelonggaran waktu untuk mendahulukan telepon saya daripada teman-temannya. Akan tetapi dia lebih mementingkan teman-temannya daripada saya. Sejak itulah saya mulai berpikir, merenung, dan akhirnya, setelah sebulan lamanya, saya pun memutuskan untuk menyudahi hubungan saya dengannya melalui telepon.

Saya mulai tersadar. Kembali ke masa sekarang. Saya bersyukur telah menikah dengan suami saya yang sekarang. Dia yang sekarang menjadi suami saya dan ayah dari anak kami, seorang yang baik dan bertanggung jawab. Seseorang yang paling tidak tega melihat orang lain menderita. Hatinya begitu tulus. Seorang yang dermawan. 

Tidak! 

Hati kecil saya kembali melakukan penolakan. Itu saja tidak cukup. Dia yang saya harapkan akan menjadi imam saya dan anak-anak saya setelah menikah. Dia yang awalnya mau menjalankan sholat lima waktu. Akan tetapi setelah menikah justru di luar ekspektasi saya. Perlahan-lahan dia meninggalkan sholat lima waktu. 

Saya kecewa, sedih, marah, dan menyesal. Bukan ini yang saya harapkan dalam kehidupan rumah tangga saya. Bagaimana dengan anak saya? Bukankah anak meniru kedua orangtuanya? Jika ayahnya saja tidak sholat, bagaimana anak saya akan mau sholat?

Lalu, saya kembali membayangkan masa lalu saya. Seandainya saat itu saya lebih bersabar menanti jodoh saya. Memperluas pergaulan saya. Mengikuti kajian-kajian di masjid agung. Mengikuti seminar dan workshop pra nikah. Pasti saya akan mendapatkan jodoh yang lebih baik. Seorang imam yang soleh dan paham akan ilmu agama. Seseorang yang bisa membimbing saya dan anak saya dalam beragama. Seseorang yang akan sehidup dan sesurga dengan saya.

Sampai di situ, saya tidak bisa lagi membayangkan apa yang akan terjadi dalam hidup saya. Benarkah saya akan bahagia? Apakah saya akan benar-benar hidup tenang? 

Ingatlah komitmen awal kamu memilih suamimu. Kamu yakin bahwa hidup seseorang bisa berubah. Kamu hanya perlu bersabar dan terus berdoa. 

Saya mulai menatap wajah anak saya. Inilah hidup saya sekarang. Apa pun itu akan saya terima. Saya sudah bekomitmen untuk menjalaninya. Fokus pada perbaikan diri, Insya Allah yang lain akan mengikuti. 


#ODOP

#Day62

Ratna Hanafi
Hai! Saya Ratna Hanafi. Seorang istri dan ibu rumah tangga yang tertarik dengan dunia kepenulisan. Menulis adalah panggilan jiwa dan cara untuk hidup abadi.

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email