Blog Pribadi Ratna Hanafi

Kulit Telur, Sampah Makanan Penyelamat Bumi

1 komentar

kulit telur sampah makanan

Teman-teman pasti sudah tahu yah kalau sampah makanan yang kita buang nantinya akan menjadi permasalahan lingkungan. Tidak peduli apakah kita sudah membuangnya di tempat sampah, nyatanya meski demikian  sampah tersebut masih menimbulkan permasalahan di tempat lain. Mereka tidak lenyap begitu saja, melainkan hanya berpindah tempat.

Sedih banget nggak sih? Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Tidak usah terlalu rumit untuk melakukan perubahan. Mulailah dari hal paling sederhana dan paling mudah dilakukan. 

Hal sederhana apa yang bisa dilakukan? Misalnya dengan mengolah kulit telur menjadi pupuk tanaman. Di rumah teman-teman pasti ada telur kan? Telur-telur ini biasanya hanya dikonsumsi bagian dalamnya saja, kemudian kulitnya akan berakhir di tempat sampah. Ketika menyatu dengan sampah-sampah rumah tangga lainnya, tentu hal ini akan berdampak buruk terhadap lingkungan. Jika kita bisa mengolahnya, justru akan bernilai positif bagi lingkungan.

Sampah Makanan di Indonesia

fakta sampah indonesia

Belakangan ini marak dibicarakan mengenai permasalahan sampah sisa makanan (food waste) di Indonesia. Melansir dari situs CNN Indonesia, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian Kuntoro Boga Andri menjelaskan, sampah makanan di Indonesia mencapai 1,3 juta ton per tahun, atau per orang menghasilkan 300 kilogram sampah makanan. Tapi ironisnya, masih banyak penduduk Indonesia yang kekurangan gizi.

Teman-teman tahu nggak sih kalau dirupiahkan, setiap 1,3 juta ton sampah makanan setara dengan Rp27 triliun. Sedangkan penduduk Indonesia yang kekurangan gizi ada sekitar 19,6 juta penduduk. Itu artinya dengan sisa makanan yang terbuang sebanyak 1.3 juta ton, bisa menyelamatkan 28 juta orang yang kelaparan per tahunnya. Wow, sangat luar biasa bukan. Duh, jadi nyesel deh buang-buang makanan. 

Bahaya Food Waste Terhadap Lingkungan

Tidak banyak orang yang menyadari bahaya dari sisa konsumsi yang kita buang, termasuk juga saya. Selama ini saya berpikir bahwa makanan adalah produk organik yang mudah terurai oleh tanah, jadi tidak masalah dong. Tetapi ternyata keliru. 


Sampah organik memang mudah terurai, tetapi jika tidak dikelola dengan baik tetap saja akan berbahaya bagi lingkungan. Apa saja bahaya yang ditimbulkan dari sisa makanan yang terbuang? Berikut saya simpulkan dari berbagai sumber :

1. Menimbulkan efek rumah kaca

Sampah-sampah organik yang membusuk nantinya akan mengeluarkan gas metana. Metana adalah hidrokarbon paling sederhana yang berbentuk gas dengan rumus kimia CH4. Biasanya digunakan untuk bahan bakar. Dalam kasus ini, gas metana dari hasil pembuangan sisa makanan yang tidak dikelola akan menimbulkan efek rumah kaca yang justru berbahaya bagi lingkungan. Mengutip dari laman sustaination.id, jumlah emisi karbon yang dihasilkan dari food waste diperkirakan mencapai 3,3 milyar ton CO2 setiap tahunnya. 

2. Merusak air, lahan, dan ekosistem

Tidak hanya menimbulkan efek rumah kaca, food waste juga ternyata merusak air, lahan, dan ekosistem. Bagaimana tidak, ketika setiap harinya sampah menumpuk dan tidak terkelola dengan baik, otomatis membutuhkan lahan tambahan yang luas untuk membangun TPA baru. Tentu saja ini akan menggeser dan merusak ekosistem di sekitarnya. 

Sampah-sampah yang menumpuk dan terkena air hujan pun lama kelamaan menghasilkan air lindi yang sangat berbahaya dan beracun karena mengandung unsur logam berat, seperti timbal, besi, dan tembaga. Air lindi ini akan meresap ke tanah dan bisa mencemari sumur resapan. Pada akhirnya berpengaruh juga terhadap kualitas air yang kita minum sehari-hari.

3. Kerugian Materi

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa 1,3 juta ton sampah yang terbuang setara dengan Rp27 triliun rupiah. Jumlah yang tidak sedikit. Dengan uang sebanyak itu, kita bisa menghidupi jutaan penduduk miskin yang kelaparan.

Ah, ya. Saya jadi teringat teman kuliah saya dulu yang jika makan piringnya benar-benar bersih. Dia tidak akan melewatkan sebutir nasipun tersisa di piring makannya. Hal yang membuat saya kagum, dia tidak merasa malu sama sekali meski melakukan hal itu di tempat umum. Katanya, "Kasihan para petani yang sudah berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan pangan kita. Di luaran sana juga masih banyak orang yang kesulitan makan, di sini kita makan enak malah dibuang-buang. Jadi hargai dan bersyukur dengan apa yang kita dapat, makan sesuai kebutuhan, dan habiskan makanan di piring kita."

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Saya membaca buku DK Wardhani yang berjudul 'Menuju Rumah Minim Sampah'. Salah satu pembahasannya menyinggung tentang strategi pengelolaan sampah. Dia menyebutkan 3 strategi pengelolaan sampah, yaitu dengan prinsip 5R Bea Johnson, strategi 3 pintu, atau strategi 3-AH. Dari ketiga prinsip tersebut, saya lebih nyaman dengan strategi 3-AH. Pada prinsipnya sama saja, hanya bahasanya saja yang lebih sederhana dan mudah dipahami. Lalu, apa itu strategi 3-AH?

1. Cegah

Di dalam buku, cegah berarti menolak penggunaan barang-barang sekali pakai seperti penggunaan kantong plastik, sedotan, dan botol plastik sekali pakai dan Perbaiki benda-benda yang rusak. Untuk kasus ini, mungkin bisa dilakukan dengan melist daftar belanjaan yang akan dibeli sesuai kebutuhan, dan menghabiskan makanan yang kita beli.

2. Pilah

Pilah sampah organik dan anorganik agar lebih mudah untuk didaur ulang. Jika ada bank sampah terdekat, teman-teman bisa mendaftarkan diri menjadi anggota dan mulailah menabung sampah anorganik tersebut di sana.

3. Olah

Olah sampah organik sisa konsumsi rumah tangga yang sudah kita pilah. Untuk yang satu ini, teman-teman tentunya wajib memiliki komposter di rumah untuk menampung semua bahan sisa organik atau membuat lubang biopori. 

Jujur saja, sebenarnya saya sendiri belum bisa menerapkan semuanya. Hal yang paling sederhana yang bisa saya lakukan untuk saat ini adalah mengolah kulit telur untuk pupuk tanaman.

Kulit Telur untuk Pupuk Organik

Sebagai ibu rumah tangga dan pelaku UMKM di bidang makanan, saya sering memakai telur untuk konsumsi harian dan pesanan. Otomatis sampah kulit telur menumpuk di tempat sampah. Saya pun berpikir bagaimana cara memanfaatkan sampah makanan yang satu ini agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.

Tidak banyak yang tahu kalau kulit telur memiliki kandungan nutrisi yang baik untuk pertumbuhan tanaman. Laporan hasil penyuluhan pemanfaatan kulit telur yang dilakukan oleh lima orang Mahasiswa KKN dari Fakultas Ilmu Soial, Hukum, dan Ekonomi Unnes menyebutkan, kulit telur sebagai limbah rumah tangga mengandung banyak nutrisi. Nutrisi yang terkandung di dalamnya antara lain kalsium karbonat 95%, 3% fosfor dan 3% terdiri atas magnesium, natrium, kalium, seng, mangan, besi, dan tembaga, yang dapat menyuburkan tanaman sehingga dapat dimanafaatkan sebagai pupuk organik. Berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan yang mereka lakukan, pemberian pupuk kulit telur sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Mulai dari meningkatkan berat tanaman sayur, berat akar, jumlah daun, luas daun, hingga tinggi tanaman. 

Proses pembuatannya pun sangat mudah. Pertama-tama kulit telur dicuci terlebih dahulu untuk menghilangkan microba yang menempel pada kulit dalam dan luarnya. Kedua, dijemur di bawah sinar matahari atau bisa juga dioven. ketiga, setelah kering, blender halus. Simpan di dalam wadah untuk pemakaian jangka panjang atau bisa langsung digunakan untuk pupuk tanaman. 

pupuk kulit telur

Hasilnya memang benar-benar dapat menyuburkan tanaman. Alhamdulillah tanaman-tanaman di depan rumah tumbuh subur. Saya juga menggunakan air cucian beras untuk menyiram tanaman. Jadi tidak ada yang terbuang sia-sia yah teman-teman.

kulit telur dan aktivitas berkebun

Saya sudah melakukannya, bagaimana dengan teman-teman? Perubahan sekecil apa pun yang kalian lakukan, Insya allah akan memberikan dampak yang signifikan bagi lingkungan. 

Tidak usah terburu-buru mengubah kebiasaan lama menuju kebiasaan baru. Lakukan saja secara bertahap, tapi konsisten. Akan lebih mudah lagi jika kita menemukan komunitas atau teman yang bisa saling mendukung satu sama lain. Semoga artikel ini bermanfaat. Salam lestari.


 Referensi :

Wardhani, DK. #belajarzerowaste, Menuju Rumah Minim Sampah. Februari 2019. Cetakan Kedua. Penerbit : Bentala Kata, Imprint Rumah Main Anak (RMA).

Khusnul Khotimah, Arifiani dkk. Pemanfaatan Limbah Cangkang Telur Sebagai Pupuk Organik Tanaman Sayuran. https://kkn.unnes.ac.id/lapkknunnes/32004_3310152006_6_Desa%20Lumbungkerep_20200910_133133.pdf

Kumparan Food. 5 Alasan Kenapa Kita Harus mengurangi Food Waste. Diposting 24 Februari 2020 22:14. https://kumparan.com/kumparanfood/5-alasan-kenapa-kita-harus-mengurangi-food-waste-1su1w2Q7MPx/full

Sasetyaningtyas, Dwi. Permasalahan Food Waste. Diposting 9 Oktober 2018. https://sustaination.id/food-waste-is-stupid-habiskan-makananmu-mulai-hari-ini/ 



 

 

 



 





Ratna Hanafi
Hai! Saya Ratna Hanafi. Seorang istri dan ibu rumah tangga yang tertarik dengan dunia kepenulisan. Menulis adalah panggilan jiwa dan cara untuk hidup abadi.
Terbaru Lebih lama

Related Posts

1 komentar

  1. Semoga bumi tidak terus ditumpuki sampah akibat kita yang tidak tahu mengelolanya.
    Terima kasih mbak ratna sudah reminding, semoga kita semakin sadar untuk menjaga bumi bersama-sama, demi masa depan anak cucu kita

    BalasHapus

Posting Komentar